Ayah

sumber: masterfile.com

Pagi ini, saya masih tidak bisa lepas dari bayangan atas apa yang terjadi semalam. Di sela kesibukan pekerjaan pun, saya ingin rasanya segera mengungkapkan ini ke blog.

Semalam, ketika saya tidur bersama keponakan laki-laki saya di kamar, kami berdua tidak kuasa akan datangnya nyamuk. Namun karena kantuk dan lelah perjalanan pulang Tangsel – Bogor, maka saya pun hanya mengusir nyamuk sekenanya dan seadanya.

Di tengah kesadaran yang setengah-setengah itu, lampu kamar tiba-tiba menyala. Saya memaksakan untuk melihat walaupun saya masih dalam keadaan tertidur.

Seseorang masuk ke kamar, mungkin ia gelisah dengan kenyamanan tidur kami (saya dan keponakan) yang terganggu dengan nyamuk. Sesaat kemudian, ia menggotong kipas angin dan menyalakannya untuk kami. Semua terjadi dengan tempo cepat sehingga saya tidak bisa segera membantu untuk sekedar menyalakan atau apalah.

Ayah. Abi. Bapak. Atau apalah…

Kau, laki-laki yang juga mengajarkan saya bagaimana mengemudi walaupun sampai saat ini saya masih belum juga lancar, terima kasih.

Terima kasih bukan hanya untuk kipas angin semalam.

Tapi untuk selama ini.

*Honestly, I can’t hold my tears while writing this post*

Iklan

6 pemikiran pada “Ayah

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s