Balada Belajar Nyetir

image

Ada anggapan yang beredar bahwa “cowok harus bisa nyetir”. Menanggapi hal ini, saya setuju. Setuju karena jika bisa mengemudi alias nyetir, maka bertambah satu keahlian (hard skill) yang tentu saja bermanfaat. Misal buat anter isteri belanja (oke fiks, ini permisalan yang agak delusional 😹). Ya, misal saja untuk mempermudah mobilitas. Selain itu, juga menegaskan peran bahwa “cowok itu (harus) bisa diandalkan”.

Oke sebelum postingan ini berbau sexist, izinkan saya berceloteh tentang pengalaman belajar nyetir. Jujur sampai tulisan ini dibuat, saya masih sangat newbie untuk urusan yang satu ini. Ada kemiripan antara kemampuan nyetir saya dengan kehidupan asmara saya, yakni sama-sama ngenes. #pukpukjones

Obsesi untuk belajar nyetir memang sudah menggebu-gebu (cailah, menggebu-gebu) sejak bangku kuliah. Namun untuk benar-benar mulai merasakan untuk menduduki kursi kanan mobil baru terlaksana belakangan ini.

Alhamdulillah, di rumah ada sebuah mobil legend yang usianya sebaya dengan saya. Latihan dengan menggunakan mobil ini pernah saya lakukan hampir satu semester yang lalu. Percobaan pertama? Sukses membuat mobil meraung-raung dan mesin mati karena gagal mengharmonisasi gas dan kopling. Selain itu, karena mobil ini sudah cukup berumur, maka fiturnya pun benar-benar legend, tidak ada power steering, tidak ada power window, dan AC pun rusak. Alhasil dengan fitur seadanya ini, tangan benar-benar seperti mengangkat galon ketika memutar setir. Berat euy.

Hari ini, dengan motivasi dan resolusi bahwa dalam waktu dekat harus bisa nyetir, maka saya mendaulat seorang rekan, sebut saja Bayu (nama sebenarnya) untuk bisa menjadi instruktur latihan nyetir. Lokasi yang direkomendasikan adalah sebuah komplek multifungsi milik Polri di daerah Gunung Putri, Bogor. Komplek ini memiliki lapangan beton seukuran lapangan sepakbola, lahan parkir lengkap dengan marka, dan jika beruntung ada truk operasional Polri. Kenapa saya bisa masuk komplek ini? Sebenarnya komplek ini belum difungsikan sehingga masih belum berpenghuni dan menjadi spot yang cocok untuk santai, ngabuburit, dan pasti: Latihan Nyetir.

Awalnya saya suruh Bayu datang ke rumah untuk membawa mobil ini ke Komplek Polri tsb., maklum jarak antara “kandang” si mobil cukup jauh untuk sampai ke TKP sehingga saya percayakan dia untuk membawa sampai ke lokasi.

Reaksi awalnya, dia merasa kaget dengan mobil legend yang akan dipakai. Lah, ya maklum saja, dia bandingkan dengan Peugeot 206. #fail #palmface

Skip. Skip. Akhirnya mobil dilepas tangankan ke saya dan bruuum… Tidak begitu kagok karena pernah coba tapi sempat ketika gagal masuk gigi 3 (maklum mobil tua, persnelingnya agak tricky), mobil sempat oleng 😁😁😁 namun karena komplek cukup sepi maka tidak ada efek berarti. Kecepatan pun saat itu hanya 30-40 km/jam (kenceng gak sih?)

Berikutnya, melaju ke spot parkir yang bermarka, sambil mematangkan insting antara spion kanan, spion kiri, dan spion atas, saya berhasil melaju cantik ke TKP spot parkir.

Coba latihan parkir mundur dan parkir maju dengan patokan marka. Alhamdulillah, kadang masih tekor alias melebar 😁😁. Selanjutnya coba parkir paralel dengan patokan sebuah truk polisi yang kebetulan dalam posisi yang pas. Untuk bagian ini, alhamdulillah, masih kagok.haha 😁😁😁 toh namanya juga latihan.

Selanjutnya adalah latihan di tanjakan. Skip. Skip. Alhamdulillah, kadang gas masih meraung dan kadang mesin mati πŸ˜‚πŸ˜‚.

Berikutnya, berhubung masuk waktu ashar, kami mencari masjid. Awalnya dikira ada di komplek tsb, ternyata tidak ada dan kami mencari hingga ke jalan umum yang ramai.

Ya, jalan raya!
*kaki gemeteran*

Dengan penuh grogi semangat, saya melaju keluar pertigaan sempit dan lalu lintas cukup ramai. Motor dan mobil dimana-mana. Cukup melatih insting ternyata dengan situasinya. Skip. Saya pun berbelok ke sebuah perumahan. Dang! Turunan dan tanjakan. Kadang simulasi langsung lebih mengasah. Saya berhasil melibas turunan dan tanjakan dengan kecepatan rata-rata kendaraan lain (bukan dengan kecepatan keong ala orang belajar nyetir πŸ˜‚). Maklum, biar keliatan jaim dan ga newbie-newbie banget.

image

Dan ternyata kami sampai harus keluar lagi dari perumahan itu karena tidak menemukan mesjid dan mulai menapaki jalan kampung yang sempit dan hanya cukup satu lajur mobil. πŸ˜‚πŸ˜‚

Ternyata simulasi ke “dunia nyata” memang berbeda dengan sekedar muter-muter di lapangan. Walaupun deg-degan juga. Sempat saya berpapasan dengan odong-odong dan mencoba melewatinya. Berhasil! Hup! Hup! Hup! πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Berikutnya kami kembali ke komplek Polri dan ternyata sedang ada balapan liar yang mana penuh dengan motor dan “pengunjung”. Alhasil, cukup crowded dan ada “keuntungan” tersendiri yakni saya bisa kembali bersimulasi dengan situasi real. Dan singkat cerita, berhasil

Karena hari sudah gelap, maka kami putuskan pulang dan saya diminta Bayu untuk giring mobil ke kandang lewat jalan raya yang cukup sempit dan ada sawah di salah satu sisi jalannya.

Ok, bagian ini anggap saja ujian penutup latihan. Bagian ini cukup menantang dimana saya harus bisa mengimbangi kecepatan kendaraan lain dan kadang menyalip cabe-cabean yang naik motor terlalu pelan. Ya maklum mereka pelan, karena satu motor diisi 3 orang. 🎠🎠🎠

Skip. Singkat kata bisa kembali ke rumah. Walaupun belum berhasil menaklukkan parkir paralel dan tanjakan dengan sempurna, paling tidak bisa “turun ke jalan” dan merasakan sensasinya langsung.

Ya, memang, ada pepatah di halaman bawah buku Sidu: practice makes perfect (dengan latihan menghasilkan kesempurnaan), latihan nyetir ini harus terus diasah dan jam terbang harus ditambah.

Ada lagi pepatah, Roma tidak dibangun dalam semalam!

Dan satu pepatah favorit, hasil tidak pernah mengkhianati usaha.

Semangat! Hup! Hup! Hup! Semoga saya bisa segera lantjar mengemudi dan bisa mendapatkan SIM A serta segera mengajak seseorang ke pelaminan
πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Powered by WordPress for Android

Iklan

16 pemikiran pada “Balada Belajar Nyetir

  1. Biar sudah ahli belajar di sirkuit, tetap belum afdol kalau belum turun ke lapangan langsung ya Mas :hehe. Semangat buat belajar menyetirnya, siapa tahu bisa ajari saya nanti karena saya juga tidak bisa menyetir :haha. Keren bisa langsung turun ke jalan dan berhasil melalui segenap rintangan dengan baik :)).

    • Iya, kalo di jalan raya, bener-bener merasakan bagaimana menyebalkannya pengendara motor yg seruntulan 😁

      Ayo bang gara latihan bareng tapi bang gara yg sedia mobilnya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    • Kalau kita di atas motor, malah kesel banget sama pengendara mobil yang tidak bisa nyetir tapi sudah berani turun ke jalan :haha. Dunia oh, dunia :haha.

  2. Wah mobil belom pake power steering? Waw…. kalo udah jago nyetir itu dan jago parkir pake mobil itu, dijamin membawa mobil jaman sekarang udah ga ada masalah lagi. πŸ˜†

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s