Hari Guru, Untuk Siapa?

315104_620

sumber: tempo.co

Selamat Hari Guru – 25 November

Hari ini, 25 November, diperingati oleh khalayak sebagai hari guru. Mengutip dari Okezone, tanggal 25 November ditetapkan sebagai hari guru karena pada tanggal tersebut, di tahun 1945, bertempat di Surakarta, Jawa Tengah, diadakan Kongres Guru oleh PGI (Persatuan Guru Indonesia). PGI merupakan cikal bakal dari PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) saat ini.

Meskipun saat ini saya sedang tidak berkarir bekerja sebagai guru tetapi berhubung saya pernah kuliah di fakultas keguruan, setidaknya saya bisa sedikit belajar bagaimana seorang guru “menetas” dari nol (khususnya jalur pendidikan di fakultas keguruan).

Guru sekarang mungkin sudah jengah dengan ungkapan “pahlawan tanpa tanda jasa”. Coba saja ucapkan ungkapan tersebut ke guru-guru honorer, pasti akan senyum kecut. Tapi saya tidak sedang membahas dunia honor guru karena memang di bagian ini saya masih bisa meraba-raba dan karena saya sendiri belum merasakan secara langsung.

Dari awal, memilih jalur pendidikan sebagai calon guru di fakultas keguruan adalah sebuah pilihan yang memang harus dicermati dan dihayati dengan sungguh-sungguh. Jika merasa terjebak di jurusan tertentu di fakultas keguruan, tentu ada saja kasusnya dan sesungguhnya saya juga merasakan itu. Di menjelang akhir perkuliahan, saya merasa salah jurusan. Sulit fokus dan cenderung menyalahkan diri. Akhirnya malah ngedumel sendiri. Singkat cerita, luluslah saya dari “lubang jarum” perkuliahan tersebut dan kini saya memang sedang tidak menyandang status sebagai guru.

Tapi belakangan saya teringat ucapan seorang guru, pendidikan adalah industri yang tidak akan pernah bangkrut dan karena tidak pernah bangkrut, maka guru akan selalu dibutuhkan sampai kapanpun. Saya masih menyimpan as pdf perkataan ini. Masih segar dan mengiang-ngiang.

Dalam hati kecil, saya merasa jika memang memiliki jiwa ingin membantu sesama, maka sepertinya jadi guru bukanlah hal yang buruk. Ah, setiap melihat teman-teman yang menjadi guru dan menceritakan proses belajar mengajar di kelas, sepintas muncul rasa iri.

Tapi bukannya saya tidak bersyukur, setidaknya di posisi saya saat ini, saya percaya bahwa setiap langkah hidup yang ditempuh mengandung konsekuensi dan setiap konsekuensi ada hikmah yang terselip. Semoga di kemudian hari saya bisa diberi kesempatan memperbaiki kompetensi diri sehingga jadi guru yang baik. Semoga. ๐Ÿ™‚ Pun jika tidak menjadi guru di kelas, setidaknya bisa menjadi “guru” dalam konteks yang lain.

Singkat kata, di tanggal 25 November ini, dari lubuk hati yang paling dalam, saya mengucapkan untuk para guru danย  juga untuk kamu:

Selamat hari guru ๐Ÿ™‚

Iklan

6 pemikiran pada “Hari Guru, Untuk Siapa?

  1. Masih banyak masalah dengan guru yang harus diselesaikan ya Mas. Semoga hari guru di tahun ini tidak berakhir dengan ucapan selamat dan peringatan saja, sih :hehe. Mudah-mudahan hari besok bisa jadi lebih baik dari hari ini :)).

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s