Memaknai Kejombloan Sebagai Sikap

not-forever-alone.jpg

forever alone

Jika pemaknaan “jomblo”, baik secara bahasa maupun istilah, sudah kembali pada khittahnya, niscaya orang-orang akan mendemo Kementerian Dalam Negeri untuk mengubah kata “belum menikah” menjadi “jomblo” di KTP.

Hari ini, ada fenomena demonisasi kaum jomblo di Indonesia. Hembusan isu ini tidak lain dipicu oleh para kaum “post-jomblo” alias mereka yang sudah menikah atau keadaan tidak jomblo lainnya. Memang tidak semua tapi banyak! Disebut oknum pun rasanya terlalu bergerombol. Mereka lah yang meruncingkan dan memperkeruh jarak antara kaum mereka dan kaum jomblo. Bentuknya berupa bully verbal maupun non-verbal. Di dunia maya maupun di depan muka. Seperti kacang lupa kulit, begitulah keadaan mereka, kaum post-jomblo yang cenderung abuse of power.

Kita kesampingkan dulu kaum post-jomblo yang disebutkan di atas, alangkah lebih baik kita kupas terlebih dahulu apa itu jomblo. Bahasa kerennya, memaknai ulang istilah jomblo.

Jomblo adalah mereka yang secara status legal formal tidak terikat secara horisontal dengan lawan jenis yang bukan saudara sekandung. Dalam konteks keislaman, adalah mereka yang tidak terikat dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Adanya jomblo adalah sebuah keniscayaan. Kebutuhan akan sifat dasar manusia yang merupakan makhluk sosial dan makhluk hidup biologis lah yang menyebabkan predikat jomblo yang disandang akan luntur dari diri seseorang jika sudah waktunya.

Kembali lagi ke kaum post-jomblo, mereka inilah (walaupun tidak semua) yang kadang gagal memaknai kaum jomblo yang belum bisa mengambil peran untuk menggenapkan diri dengan lawan jenis. Analogi sederhananya, kaum post-jomblo ini seperti kupu-kupu yang mencemooh kepompong. Aneh memang, tapi itu terjadi.

Beragam cara dilakukan kaum post-jomblo-kacang-lupa-kulit ini, mulai dari provokasi halus di dunia sosial media, membelokkan tema pembicaraan ketika berdiskusi, dll. Masing-masing dengan dosis yang berbeda-beda, ada yang sedikit hingga yang tega sekali.

Kaum jomblo, yang tercitrakan sebagai kaum papa nan fakir asmara itu, seolah terpojokkan dengan kondisi di atas. Padahal itu tidaklah demikian. Kaum jomblo bukanlah seperti kasta proletar. Bukan juga mustahik alias penerima dana zakat infaq shadaqah (kecuali memang mustahik beneran). Jomblo adalah sebuah sikap.

Ya, jika memaknai jomblo sebagai sebuah keadaan yang taken for granted, maka kita-para jomblo-akan memiliki bargaining positioning yang lemah di mata kaum post-jomblo. Sebaliknya jika kita memaknai jomblo sebagai sebuah sikap hidup, sistem nilai, ataupun norma positif yang diterima masyarakat, maka posisi kita akan melesat dari keadaan yang dipandang sebelah mata menjadi lebih egaliter.

Pemaknaan jomblo sebagai sebuah sikap akan menghadirkan persepsi positif bagi kaum jomblo itu sendiri. Ketimbang menghabiskan waktu untuk meladeni kaum post-jomblo yang lupa diri tadi, kaum jomblo justru akan mengerjakan hal bermanfaat. Sebut saja mengasah hobi, mempertajam intelektualitas, dan menambah soft skill lainnya.

Kelak jika kaum jomblo yang menyatakan kejombloan sebagai sikap, maka ketika ia “wisuda” dari predikatnya, maka ia akan sadar diri untuk tidak menjadi kaum post-jombloย  lupa diri yang suka mem-bully.

Terakhir, jika menerapkan kejombloan sebagai sikap positif, maka kaum jombloย dengan mudah akan menjawab pertanyaan seperti: “untuk apa waktu jomblomu kau habiskan?”

***

Iklan

15 pemikiran pada “Memaknai Kejombloan Sebagai Sikap

  1. Mantab sekali pembahasannya. Sebuah pandangan yang kompleks dan komprehensif karena menilai sebuah status jomblo bukan hanya dari ketiadaan lawan jenis yang terikat secara legal-formal tapi juga dari sudut pandang budaya dan kehidupan manusia secara menyeluruh. Suatu pemikiran yang harus diapresiasi dan diterima secara nyata bahkan oleh para kaum post-jomblo-yang-bagaikan-kupu-menghina-kepompong. Two thumbs up!

  2. Tergantung jomblonya juga sih, baperan apa nggak Mas :haha. Saya tak bisa mengubah apa pandangan para post-jomblo terhadap saya (yang jomblo) karena saya tahu satu-satunya pandangan orang yang dapat saya ubah adalah pandangan saya sendiri. Saya jomblo, dan saya peduli setan dengan kaum post-jomblo yang mempertanyakan dan mencemooh status saya :haha. Usaha saya menggenapi diri tidaklah perlu diketahui orang kecuali saya dan Tuhan :haha. Hidup jomblo! #eh.

  3. Ping balik: Kang Emil, Jakarta, dan Jomblo | ardiologi

  4. Ping balik: Pernyataan Sikap tentang THR | ardiologi

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s