Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Batu (bagian 2-habis)

img_20151226_154312_hdr.jpg

Desa Sumber Brantas, Kota Batu – Jawa Timur

Pesan sponsor: pos ini adalah sekuel dari Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Batu (Prolog)

Sebelum semuanya sirna dalam pikiran dan hati, ada baiknya kita abadikan sebelum terlambat.

Setidaknya kalimat sok puitis di atas yang mendorong saya segera menulis ini.

Ketika orang lain menikmati libur superpanjang di akhir tahun kemarin, ada seseorang yang mesti lembur. Ketika yang lain menikmati kombinasi libur natal, libur akhir pekan, libur semester, dan libur sebab hak cuti pribadi, ada yang malah masuk kerja.

Ya, itulah saya.

Tapi jangan bayangkan lembur yang harus menatap monitor mengerjakan suatu deadline yang membuat kepala pening dan mata berkunang-kunang. Justru “lembur” saya tersebut tergolong setengah kerja setengah jalan-jalan. Ceritanya pada rentetan tanggal 26-29 Desember 2015 (kini sudah 2016 euy), ada penugasan dari kantor untuk melaksanakan tugas lapangan mengunjungi lokasi program nun jauh di Kota Batu, Jawa Timur sana.

Sejak awal mendengar kabar ini, saya yang memang katrok belum sempat pernah ke Jawa Timur dengan senang hati bersedia. Bayangan akan Kota Batu dan Kota Malang yang sejuk nan dingin menggelayut indah jiga kadu can dipelak (bahasa Sunda: seperti durian yang belum dipetik) di kepala.

Bromo yang Terbatuk

e530db8240da4673e67ef2ba225b74e6

Bromo yang terbatuk – sumber: kabarterkini.top

Sebelum keberangkatan, saya beserta tim dari Jakarta memang sempat waswas akan penerbangan menuju Bandara Abdurahman Saleh Malang yang labil sering buka tutup mengingat aktifitas gunung Bromo yang sedang tinggi sehingga ada kepulan asap yang mengganggu jalur penerbangan. Sempat berwacana akan berangkat via Bandara Juanda, Sidoarjo (eh, bandara tsb ada di Sidoarjo, kan? Bukan Surabaya?). Namun, kami akhirnya tetap memilih penerbangan langsung ke Malang.

Dan penerbangan perdana saya itu pun berjalan lancar pada tanggal 26 Desember 2015. Menjelang tiba di Malang, ditandai dengan menjulangnya Gunung Semeru, terlihat Bromo dengan gagahnya memuntahkan asap vulkanik. Sayang saya tidak sempat mengabadikan pemandangan dahsyat tersebut dari jendela kursi 16A Boeing 737-800NG milik Sriwijaya Air yang saya tumpangi. Kamu, iya, kamu, bayangin saja sendiri ya.hehe

Tiba di Malang, kami menunggu jemputan dan ketika datang kami meluncur menuju Kota Malang, tepatnya di daerah Sengkaling untuk bertemu mitra lokal yang berkaitan dengan pekerjaan lah tentunya.heuheu

Batu atau Malang?

Sebenarnya perjalanan saya ini lebih banyak di Kota Batu sehingga saya hanya sedikit “merasakan” Kota Malang ini. Oh ya, karena jiwa Geografi saya masih ada dan terasa kental dalam darah dan agak sensitif untuk masalah letak administratif suatu wilayah, saya mencatat masih saja banyak terkecoh tentang Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Bahkan yang lebih greget lagi, menyandingkan penamaan Batu dan Malang seolah sebagai sebagai satu daerah yang sama, padahal semuanya ada batas masing-masing. Hal ini menurut saya wajar mengingat Kota Batu sendiri merupakan pemekaran dari Kabupaten Malang. Ingat ya, kabupaten dan kota itu beda, beda dari tata kelola sampai beda urusan duitnya.heuheu

Sungai Brantas dan Problemanya

img_20151227_182104.jpg

Sunset di ketinggian 1600 mdpl

Misi utama saya dan tim ke Malang adalah urusan yang berkaitan dengan ekologi hulu sungai Brantas. Singkatnya, hulu sungai Brantas, khususnya di daerah Bumiaji, tergolong mengalami degradasi. Lahan dengan tingkat kemiringan yang tinggi di beberapa tempat masih sangat minim vegetasi berakar keras agar mampu menahan air. Jika dibiarkan hal tersebut dapat memicu bencana longsor bahkan banjir. Tercatat, pada 2004, daerah hulu Brantas mengalami air bah. Bisa dibayangkan bagaimana bisa daerah hulu sungai mengalami banjir?

Setelah selesai dengan pekerjaan yang memang berkaitan dengan kepedulian akan hulu sungai Brantas tsb, maka saatnya jalan-jalan. Tentu bukan berarti memanfaatkan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi tapi lebih ke mensiasati waktu dan situasi agar semua berjalan lancar.

Alun-Alun Batu: Simbol Kekinian

Ketika membaca review tempat ini sebelumnya dari berbagai sumber, saya bisa membayangkan bagaimana tempat ini bisa menjadi sangat hits dan kekinian. Cieee kekinian.

Tempat ini, sebagaimana alun-alun pada kota lainnya, berada di tempat yang strategis. Wajar selalu ramai. Terlebih pada musim liburan akhir tahun kemarin, sangat sulit mendapat parkir mobil. Alhasil kami harus memarkir mobil di dekat Batu Trade Center, sekitar 200m dari alun-alun.

Ketika saya dan tim kesana, ternyata apa yang saya baca di beragam review cukup terbukti. Tempatnya memang ramai dan itu tadi: nge-hits dan kekinian. Ada bianglala yang megah dengan tata lampu warna-warni. Saya tidak salah ternyata berkunjung ke Alun-alun Batu pada malam hari karena memang jadi lebih berwarna.

Pertama yang kami kunjungi adalah lokasi makan malam. Ada beragam pilihan tapi di setiap lokasi mayoritas menyediakan rawon dan olahan apel. Akhirnya saya memilih salah satu warung makan dan memesan nasi krengseng. Nasi Krengseng adalah seporsi nasi dalam piring dengan daging sapi yang lembut dan juga ada ebi daging. Sayang tidak ada fotonya. Sekilas mirip semur daging sih (atau memang semur daging?) tapi yang jelas lebih empuk dan uenak tenan. Untuk minuman, saya  mencoba susu madu. Lumayan seger dan bikin perut kembung.

Sesaat setelah makan, jiwa fotografi saya bergelora (eaaa). Langsung mengeluarkan kamera, mini tripod, dan ponsel untuk mengabadikan suasana. Berhubung saya lebih menyukai foto artistik ketimbang narsistik, maka cuma foto seperti ini yang bisa dihasilkan.

Juga sebuah timelapse singkat menggunakan ponsel Redmi 2 yang jadi andalan saya. Saya upload di Instagram (bisa kalee difollow.hehe)

BIANGLALA membekukan momen #alunalunbatu #batu #batubukanmalang #timelapse #redmi2 #kamukesiniyukbarengaku #eh

Video kiriman Ardi Wahyudi (@ardiologicom) pada Des 28, 2015 pada 7:20 PST

 

Coban Rondo: Air Terjun Janda #pukpuk

Setelah puas dan bosan di Alun-alun Batu, saya dan salah seorang tim mengunjung Objek Wisata Coban Rondo. Lokasinya sebenarnya bukan di Kota Batu tapi di Kabupaten Malang. Coban Rondo sendiri dalam bahasa Indonesia berarti “Air Terjun Janda”. Legendanya bisa dibaca di foto berikut:

img_20151229_090637.jpg

klik saja kalau gak keliatan 🙂 – Coban Rondo, Kab.Malang – Jawa Timur

Seperti biasanya, saya mengedepankan foto artistik ketimbang narsistik disini, alhasil lebih sibuk setel pengaturan kamera agar dapat bukaan shutter speed yang tepat. Sayangnya, foto belum sempat di retouch, jadi apa adanya hasilnya.

 

Yang menarik dari objek wisata ini adalah pengelolaannya yang rapi. Lingkungan relatif bersih, fasilitas publik seperti toilet cukup banyak, jalur masuk-keluar dibedakan, dan tidak ada pungutan parkir.

Air terjun yang berada di ketinggian sekitar 1300mdpl (menurut GPS) ini bisa menjadi lokasi favorit untuk “menghijaukan” mata. Kombinasi alam yang sejuk dan kawasan yang rapi menjadikan pengunjung betah disini.

Arboretum Brantas

Kembali lagi ke Batu, kami mengunjung sebuah tempat bernama Arboretum Brantas. Di tempat ini, terdapat taman (atau kebun) yang sepintas suasanannya mirip kebun raya Bogor atau Cibodas. Asri, hijau, dan sejuk. Yang spesial, tempat ini adalah titik nol sungai Brantas yang mengalir hampir ke seluruh penjuru Jawa Timur.

img_20151227_141529.jpg

di tempat ini, aliran sungai Brantas berasal

Ada Cinta di Ketinggian?

Tempat yang tinggi, dingin, dan sejuk memang membuat hati dan pikiran lebih fresh. Setelah ini kemana lagi? Ada ide? 🙂

Iklan

2 pemikiran pada “Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Batu (bagian 2-habis)

  1. Saya pengen ke Arboretum Brantas… sepertinya di sana ada cerita yang masih belum tersingkap. Gunung Arjuno kan penuh dengan misteri :)). Bagus Mas foto alun-alunnya, ferris wheel itu kalau malam dan dipotret dengan slowspeed memang jadi keren sekali, banyak lingkaran cahaya di sana. Bagaimana up date soal kondisi Brantas? Hal-hal apa yang mulai dilakukan guna menghentikan laju kerusakan?

    • Ayo bang gara ke arboretum, siapa tau nemu yang dicari disana… masuknya gratis malah.hehe

      beruntung waktu kesana malem-malem jadi bisa eksplor slow speed

      di brantas ya? kami melakukan penanaman tanaman berakar keras

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s