Review Film The Wave

the_wave_282015_film29

The Wave – sumber: wikipedia

Film yang bertema bencana atau katastrofi memang sudah banyak, sebut saja The Day After Tomorrow atau yang paling absurd sekalipun, 2012. Hal yang lumayan mirip dalam plot film bertema bencana seperti yang disebutkan tadi adalah adanya peran antagonis dari unsur pemerintah yang abai terhadap analisis dari ilmuwan/peneliti yang jadi pemeran protagonis.

Di film The Wave (di Norwegia film ini namanya BØLGEN) besutan Roar Uthaug ini saya tidak menemukan jalan cerita seperti yang saya ungkap di atas. Film terbitan Norwegia tahun 2015 ini menurut saya menawarkan sesuatu tentang mitigasi bencana dan sedikit drama yang melibatkan insting manusia ketika menghadapi bencana.

[PERINGATAN: SPOILER ALERT]

Film ini berlatar lanskap indah nun jauh di Norwegia sana tepatnya di daerah Geiranger. Secara topografi, Geiranger adalah pegunungan dengan lembah yang menjadi pemukiman dan tujuan wisata. Di lembahnya juga terdapat danau besar. Kurang lebih begini penampakannya.

800px-geiranger2

Geiranger, Norwegia – sumber: wikipedia

Di balik keindahan lanskap Geiranger ini, ada potensi bahaya yang mengancam. Pegunungan di sekeliling ini Geiranger ini ternyata rapuh dan berpotensi runtuh setiap saat. Jika terjadi longsor, maka bisa terjadi tsunami setinggi 80 meter.

Sudut Pandang Mitigasi Bencana

Tokoh utama dalam film ini adalah Kristian (Kristoffer Joner). Kristian adalah seorang geologist/ahli geologi. Di film ini Kristian berencana ingin hijrah dari Geiranger bersama keluarganya ke tempat lain. Namun Kristian memiliki firasat dan intuisi seorang Geologist yang menyatakan bahwa pegunungan di Geiranger mulai menunjukkan gejala kolaps/runtuh. Intuisi ini pun didukung dengan temuan di pos pantau geologi. Di sisi lain, keluarga Kristian yang terdiri dari sang isteri dan 2 anaknya bersikukuh untuk segera pindah.

Tidak. Saya tidak akan membahas alur cerita, biar gak spoiler-spoiler amat. Yang saya cermati dalam film ini adalah konsep mitigasi yang jelas dan cermat. Tidak ada drama antagonis pemerintah disini seperti film lainnya. Di sini Kristian dan tim yang berada di pos pantau geologi Geiranger bekerja memantau terus pergerakan batuan di Geiranger. Jika terjadi keadaan darurat maka ada sistem peringatan dini yang sudah dipasang diseluruh lembah.

Di film ini, permodelan tsunami yang terjadi jika terjadi longsor pegunungan adalah setinggi 80 m dan dengan permodelan tersebut, maka sejak pertama kali sistem peringatan dini, yang berupa sirine, berbunyi,  masyarakat punya waktu 10 menit untuk mengevakuasi diri. Standar evakuasi minimal harus berada di ketinggian minimal 80 mdpl.

Karena lagi-lagi jiwa Geografi saya masih ada (hehe), saya menemukan berbagai hal yang memang khas dunia Geologi disini. Misal sensor gerak, permodelan bencana, manajemen mitigasi bencana, teori landslide, sampai jam tangan yang dipakai Kristian menunjukkan ketinggian lokasi.

Insting Manusia Ketika Diancam Bahaya

Film ini juga menunjukkan sisi humanisnya, terlebih ketika terancam bahaya. Di tengah jalan cerita, dikisahkan bagaimana isteri Kristian memilih mencari putranya yang main skateboard di selasar bawah tanah hotel yang sedang ditempatinya. Disini juga ditampilkan bagaimana insting seorang ayah yang menjadi pelindung bagi orang tercintanya. Film ini sangat minim konflik antagonis. Hanya ada sedikit yakni ketika Kristian menyampaikan intuisinya kepada rekannya di pos pemantau dan ketika seorang turis yang marah ketika isterinya mati akibat memilih menyelamatkan putra si Kristian.

Kekurangannya Adalah…

Alur film ini berjalan lambat dan bikin ngantuk di setengah bagian pertamanya. Plot kebencanaannya baru dimulai di paruh kedua film. Sebaiknya jika Anda menonton film ini, harap sedikit bersabar hingga setengah bagian pertama terlewatkan.

Kesimpulan

Film ini adalah film dengan latar belakang yang nyata. Di The Wave ini, bencana yang divisualisasi merupakan refleksi bencana sungguhan di tahun 70-an. Di akhir cerita, dijelaskan bahwa batuan di Geiranger rata-rata bergerak 15cm/tahun. Pergerakan batuan inilah yang terus dipantau karena sewaktu-waktu bisa memicu longsor.

Film ini cocok untuk yang ingin mengetahui bagaimana mitigasi bencana dilakukan ditambah dengan sedikit drama hubungan keluarga. Jangan berharap akan ada visual kebencanaan yang “ramai” sejak awal film sebagaimana film The Day After Tomorrow.

***

Iklan

9 pemikiran pada “Review Film The Wave

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s