Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Papandayan

img_20160124_202152.jpg

Edelweiss di Tegal Alun, Papandayan – dok.pribadi

Gunung Papandayan adalah salah satu daftar 5 gunung tertinggi yang berada di Jawa Barat. Dengan ketinggian sekitar 2665 mdpl, Papandayan menyajikan semua yang ada di dalamnya, termasuk cinta-Nya. Pendakian ini adalah jalan-jalan saya ke gunung setelah hampir setahun (2015) tidak pernah mampir ke gunung lagi, kecuali ke Munara. Itupun jika Munara dihitung sebagai pendakian.heuheu

Papandayan dan Transportasi yang Berbasis “Kearifan Lokal”

Perjalanan dimulai tanggal Jumat (21/1) malam dari Ciputat, Tangerang Selatan. Mobil meluncur sekitar pukul 00.00 WIB. Cuaca hujan saat itu. Memang, mendaki di awal tahun sangat beresiko kehujanan akibat di bulan-bulan tersebut sedang memasuki musim penghujan. Namun demikian kami tetap berangkat dengan persiapan yang matang dan tidak lupa berdoa supaya tidak hujan di Garut sana. 😀

Singkat cerita, kami sampai di daerah Cisurupan, sebuah kecamatan di Kabupaten Garut yang merupakan pintu masuk menuju kawasan gunung Papandayan. Kami sampai di Cisurupan ketika azan subuh. Kami mampir ke SPBU untuk salat subuh lalu istirahat meregangkan kaki akibat terlalu lama sendiri duduk di mobil.

Ketika kami melanjutkan perjalanan, mobil tumpangan kami dipepet seekor Avanza. Sopir turun dan mencari tahu apa yang terjadi. Ternyata setelah diklarifikasi, kami satu mobil harus turun dan naik tumpangan lokal. Ya, kami dipaksa turun tepatnya! Ternyata Avanza putih yang mencegat kami adalah bagian dari “kearifan lokal transportasi” di Papandayan. Jadi ceritanya, pengunjung dilarang naik angkutan umum “tidak resmi” (alam tanda petik). Penyebabnya kami naik carteran berpelat kuning dari Ciputat. Alhasil kami disuruh turun dan diminta naik mobil bak yang merupakan kearifan lokal transportasi Papandayan. Tentu kami harus membayar lagi sebesar Rp150.000/mobil bak. Kami yang berjumlah 15 orang pun akhirnya bongkar tas dari mobil carteran dan dipindahkan ke mobil bak.

Camp David

Dari Cisurupan menuju gerbang pendakian, jalanan menanjak tanpa henti. Namun untungnya rute mobil sudah diaspal meskipun tidak begitu halus. Setidaknya mobil masih bisa menanjak tanpa kesulitan berarti. Tak lama kami menemui gerbang masuk dan membayar Rp12.500 per kepala. Setelah itu mobil melaju kembali menuju gerbang pendakian yang populer dengan nama Camp David.

Di Camp David ini, terdapat banyak sekali warung dan ada juga pos relawan gunung. Suasana Sabtu pagi itu cukup ramai, pendaki mulai berdatangan dan mencatat nama di pos relawan. Di pos relawan ini, kami dimintai uang sukarela. Ya, sukarela, jumlah tidak ditentukan. Setelah berdoa dan briefing, perjalanan pun dimulai.

Oh ya, di Camp David, ketinggiannya sekitar 1600 mdpl (diukur dengan Navitel GPS).

Kawah Papandayan

Setelah melewati Camp David, trek mulai sedikit menanjak namun sudut kemiringan tidak begitu ekstrem. Tapi tetap saja berhubung sudah berumur, nanjak segitu saja udah agak ngos-ngosan.hehe. Pemandangan di sekitar kawah dominan berwarna kuning. Kawah ini merupakan saksi-saksi letusan Papandayan.

img_20160125_210128.jpg

Motor pun bisa nanjak ke Papandayan

Setelah hampir 30 menit berjalan menyusuri kawah, kita akan sampai di pertigaan yang ditandai dengan adanya warung dan toilet umum. Di pertigaan ini, akan terdapat percabangan rute. Jika kita belok kiri, kita kan melewati Hoberhoet. Jalur ini, konon, adalah jalur tercepat menuju Kawah Mati, salah satu spot eksotis di Papandayan. Cabang lainnya, adalah rute menuju Pondok Saladah, yang merupakan lokasi camp.

Jalur Longsor

Kami memilih rute menuju Pondok Saladah. Di rute ini ternyata terdapat longsor besar yang memutus jalur pendakian sehingga jalur pendakian harus memutar menuruni lembah, menyeberang aliran air kecil, dan kembali menanjak hebat. Di trek ini pendakian menyusuri lembah mulai terasa sensasinya. Licin dan cium lutut ada disini. Setelah berjibaku dengan tanjakan, jalan mulai mendatar. Jalan mendatar ini adalah jalan sambungan yang terputus dari longsor. Saya duga bahkan dulu mobil bisa lewat sini karena treknya memang seperti trek mobil. Tapi entahlah, saya masih harus mencari informasi lebih lanjut akan hal ini.

Di jalan ini, kemudian kita akan menemukan pos 2. Di pos 2 ini, lagi-lagi akan ditemui beberapa warung dan tukang cilok yang menyambut pendaki untuk jajan. Huft. Kzl. Di pos 2 ini, kita akan menemukan lagi pos relawan untuk melapor dan disini pun dimintai biaya sukarela lagi.

Pondok Saladah

img_20160123_101029.jpg

Pondok Saladah Papandayan

Setelah pos 2, kami melanjutkan jalan menuju Pondok Saladah. Sebuah lokasi yang merupakan spot untuk mendirikan tenda. Kami tiba disini sekitar pukul 10.30 WIB, cukup cepat, jika dihitung-hitung, dari Camp David hingga Pondok Saladah, hanya menempuh waktu 2 jam.

Kami kemudian mencari spot di balik rimbunnya pohon Cantigi dengan harapan bisa meminimalisir air hujan. Kabut mulai turun dan kami terus berdoa supaya hujan tidak turun.

Tenda berdiri dan kami mengagendakan masak makan siang. Waktu masih tersedia banyak sehingga kami lebih banyak leyeh-leyeh. Ada yang memilih menuju hutan mati, ada juga yang memilih tidur siang. Saya sendiri lebih memilih masak karena cowok yang bisa masak di gunung, kemungkinan besar bisa survive di dapur. #eaaaa

Matahari terus tenggelam menuju peraduannya. Suhu semakin turun.

img_20160123_193146.jpg

13 derajat celcius

13°C tercatat di jam tangan SKMEI yang saya pakai. Dingin. Brrr. Untuk berwudhu saja butuh “perjuangan”. Oh ya, di Pondok Saladah ini, lagi-lagi banyak sekali warung yang menjual aneka makanan, mulai dari nasi goreng hingga mie rebus. Ditambah lagi sudah ada toilet permanen yang memudahkan aktifitas buang hajat.

Malam itu kami tidak melakukan aktivitas berarti, dari 4 tenda kelompok yang dibangun, 1 tenda memilih bermain poker dan sisanya memilih tidur. Naasnya, saat itu saya mendiami tenda yang berkapasitas 2 orang dan disulap jadi “gudang” tas sehingga saya harus tidur sendiri ditemani tas-tas gemuk. Nasip.

Tidur saya tidak begitu nyenyak malam itu, selain karena faktor tenda yang single layer membuat tidur terasa tidak pakai tenda. Sleeping bag sudah dikondisikan sedemikian rupa tetap saja merasa dingin dan sepi. Ditambah lagi malam itu kami harap-harap cemas agar tidak turun hujan, alhasil ketika angin berhembus kencang dan menjatuhkan uap-uap air yang ada di pepohonan, kami langsung pasang status siaga hujan. Alhamdulillah, sepanjang malam itu hujan tidak turun.

Hutan Mati

img_20160130_201557_1454308814566.jpg

Hutan Mati Papandayan

Suhu pagi itu masih lucu-lucunya, tidak beranjak dari angka 13°C. Saya curiga, jangan-jangan jam tangan saya hanya bisa membaca suhu terendah maksimal di angka 13, sedangkan suhu aslinya benar-benar dingin. Udah dingin, sendirian di tenda. Mengenaskan.

Setelah bangun, shalat subuh dengan berwudhu air yang super dingin, lagi-lagi tidak ada agenda pasti. Di kesempatan ini saya memilih untuk jalan-jalan menuju kawasan Hutan Mati Papandayan yang letaknya tidak begitu jauh dari Pondok Saladah. Sekitar 5 menit berjalan saja kita akan sampai.

Hutan mati sejatinya adalah hamparan vegetasi hutan Cantigi yang terkena sapuan erupsi Papandayan tahun 2002. Uniknya, batang pohon yang mati tidak lapuk dan tetap di posisinya. Hanya saja bedanya, tidak ada daun dan yang pasti sudah tidak ada lagi aktifitas biologis dari pohon-pohon ini.

Pagi itu cuaca mendung, berkabut tebal. Ditambah suasana sepi, jadilah hutan mati ini jadi sasaran empuk untukk foto-foto. Dijamin, ketika mampir ke hutan mati, kita akan panen foto yang instagramable. Namun menjelang siang, kawasan ini akan terasa terik. Jadi usahakan mampir kesini pagi atau sore hari.

Menuju Puncak Gemilang Cahaya

img_20160125_172032.jpg

2665mdpl? Yakin?

Ketika hari menjelang siang dan sarapan sudah tandas, tim kami memutuskan untuk mampir ke Puncak dan Tegal Alun. Trek menuju Puncak kembali melalui Hutan Mati. Setelah melewati Hutan Mati, trek menjadi sedikit curam dan licin. Setelah bersusah payah selama hampir 1 jam, kami sampai ke titik yang dibilang sebagai puncak.

Namun, karena jiwa Geografi saya masih memanggil-manggil, langsung saja saya keluarkan GPS dan mengukur ketinggian titik yang dimaksud. Alhasil ketinggian yang terbaca ada di angka 2581 mdpl dengan simpangan error 3 m. Pengukuran ini kemudian dikonfirmasi oleh salah satu rekan saya yang bertanya ke relawan penjaga toilet bahwasanya masih ada “puncak sejati” dari Papandayan namun memerlukan perjalanan tambahan mencapai 3 jam. Entah ini benar atau tidak, mungkin ada yang mau membuktikan?

Di puncak yang ada di foto sendiri, tidak ada penampakan apa-apa. Hanya sebidang tanah dengan papan penanda puncak. Pemandangan terhalang rimbunnya pepohonan. Dari sini kami melanjutkan ke Tegal Alun.

Tegal Alun

img_20160125_204544.jpg

Edelweiss di Tegal Alun Papandayan

Boleh dibilang, sajian utama ketika mendaki Papandayan adalah Tegal Alun. Tegal Alun merupakan sebuah lembah yang dipenuhi bunga Anaphalis javanica atau lazim disebut Edelweiss alias si bunga abadi. Sayangnya saat itu, edelweiss belum sepenuhnya mekar di Tegal Alun.

Selain itu, di Tegal Alun juga terdapat kubangan air yang duga adalah mata air. Tegal Alun sendiri secara visual mirip dengan Lembah Mandalawangi Gunung Pangrango. Bedanya di Tegal Alun, kita dilarang membuka tenda. Namun kenyataannya siang itu kami mendapati sebuah tenda yang didirikan di rimbunnya Edelweiss. Saya hanya bisa mengelus perut dada untuk yang satu ini.

Setelah puas menghirup udara segar di Tegal Alun, kami kembali ke Pondok Saladah. Oh ya, untuk menuju Pondok Saladah, kami melewati jalur yang berbeda. Jadi, kami tidak lagi trek yang  melewati puncak namun langsung menuju hutan mati. Analoginya, ketika datang, kami lewat pintu belakang namun ketika pulang kami lewat pintu depan.

Sesampainya di Pondok Saladah, suasana sudah sepi. Pendaki sudah banyak yang turun rupanya. Kami hanya mendapati tenda kami sendiri dan beberapa tenda yang masih berdiri. Setelah berkemas, kamipun bergegas turun.

Papandayan, Sirkuit Motocross?

img_20160123_090622.jpg

Motor naik gunung atau gunung dinaiki motor? heuheu

Ketika turun, kami mendapati sekumpulan pengendara motocross alias motor spesialis garuk tanah yang meraung-raung kepayahan melewati trek. Jujur, melihat ini saya menjadi gemes. Bagaimana bisa, kami susah payah gendong tas segede gaban, mereka malah ke atas naik motor. Tapi kemudian saya ralat dalam hati, mengendarai motor sampai atas pun bikin capek sendiri. Hehe. Cocok memang untuk yang senang dengan pacu adrenalin dunia motor garuk tanah.

Epilog: Misi Tercapai!

Dengan dilakukannya pendakian ke Papandayan, maka saya sudah menggenapkan perjalanan mendaki ke 5 gunung tertinggi di Jawa Barat, yakni Ciremai (3078mdpl), Pangrango (3019mdpl), Gede (2958mdpl), Cikuray (2821mdpl), dan Papandayan (anggap saja 2665 mdpl). Sebenarnya saya ingin “remedial” untuk Ciremai karena dulu tidak sampai di puncaknya karena suatu hal tapi setidaknya saya sudah bisa membandingkan bagaimana “biadabnya” trek di masing-masing gunung. Bukan, bukan untuk disombongkan, tapi lebih kepada upaya kontemplasi dan perenungan diri. Jujur, ketika “di atas sana”, merenung menjadi aktifitas yang sangat penting.

Aku bukan pendaki gunung ataulah pecinta alam, aku hanya seseorang yang ingin bersujud dari tempat yang sedikit lebih tinggi dari orang kebanyakan”

img_20160124_124421_hdr.jpg

Sendirian aja, bang? #eh

Iklan

19 pemikiran pada “Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Papandayan

  1. Duh..komersil banget ya? banyak pungli gitu sejak dari awal perjalanan. Hmm..kemarin saat saya ke sindoro, dingin juga menusuk padahal sudah pakai baju berlapis-lapis plus pakai sleeping bag, namun tetap masih saja dingin. Untungnya kami bertiga dalam satu tenda jadi bisa saling mepet tidurnya hehehe

  2. Biarpun orang kata mendaki Papandayan mudah dan di puncak pun ada dagang cilok, setelah membaca ini tetap saja lho saya beranggapan kalau mendaki gunung bukan perkara mudah. Kecuali gunung yang didaki itu Gunung Sahari sih :haha. Selamat sudah bisa mendaki lima puncak tertinggi di Jawa Barat! Pastinya butuh persiapan fisik yang jos banget dalam setiap pendakian supaya bisa muncak dan turun lagi dengan selamat.
    Jadi mau mendaki gunung apa setelah ini, Mas?

    • ada yg kurang: persiapan fisik dan dompet yang prima.hehe

      abis ini? belum tau mau kemana lagi, tergantung isi hati dan isi dompet. Mungkin bang gara mau akomodasiiin saya ke rinjani? saya siap kok.hehe 😀

  3. Gak pernah naik gunung yeeeee 👏👏👏 *tepuk tangan untuk diri sendiri*

    Btw aku suka sama foto yang “gak pake kertas” hahaha bagus deh gak nyampah yak 😛

  4. Salam kenal kak,
    Thanks buat infonya dan sedikit cerita “ngenes” di tenda..hahahaha…
    Sedih dengernya udah banyak pungli… btw, jalan dari Alun-alun Cisurupan ke Camp Davidnya udah mulus banget ya? Mohon infonya,,, soalnya Tahun lalu (atau 2 tahun lalu… lupa) jalannya masih rusak parah… Mobil Panther saya sampe susah nanjak dan bau kopling karena jalan berpasir..

    Rencana bulan depan mau ke Papandayan..

  5. Ping balik: Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Merbabu | ardiologi

  6. Kayanya seru yaa. Cucok bwat sy yang perlu motivasi makanan selama naik2 ke Puncak gunung. Hehe. Cilok yang sudah menanti 😀 Kemarenan mendaki Prau, pas sdh sampai atas… gak ada warung makan sayangnya. Hahaha!

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s