Kereta yang Ditunggu

image

Peron stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat

Beberapa hari yang lalu, saya ada keperluan pelatihan di daerah Tebet, Jakarta Selatan Berhubung saya berangkat dari Ciputat, Tangerang Selatan, maka saya memutuskan menggunakan jasa kereta komuter (commuter line). Tujuannya agar lebih hemat. Jalur yang saya gunakan adalah jalur stasiun Pondok Ranji – stasiun Tanah Abang. Kemudian berlanjut ke jalur stasiun Tanah Abang – stasiun Bogor dan turun di stasiun Tebet.

Berbicara tentang jalur stasiun Pondok Ranji – Tanah Abang, jalur ini adalah salah satu jalur masuk menuju ibukota. Praktis, mobilitas di jalur ini sangat padat. Di jam kantor, kereta tidak pernah sepi. Jalur ini menyediakan perjalanan kereta komuter hingga ke stasiun Maja, Lebak, Banten. Bukan jarak yang pendek. Tapi sepengamatan saya, rangkaian kereta hingga ke stasiun Maja menjadi andalan mereka yang tinggal di Tangerang bahkan Lebak untuk mengadu nasib di ibukota.

Singkar cerita, sore itu saya, bersama ribuan manusia tumpah ruah di stasiun Tanah Abang. Maklum stasiun ini adalah stasiun transit. Padat hingga turun-naik tangga stasiun pun harus merayap pelan. Saya yang pulang dari Tebet sekitar pukul 17.00 WIB, tiba di Tanah Abang sekitar pukul 17.30 WIB. Peron 5 dan 6 yang melayani kereta komuter jalur Tanah Abang hingga Maja sudah sangat sesak. Untuk bergerak saja tidak leluasa. Saya yang menuju stasiun Pondok Ranji pun sampai harus gagal 2x menaiki kereta akibat tidak ada ruang lagi di kereta.

Sampai akhirnya azan maghrib berkumandang. Saya memutuskan bergeser dari peron 5-6 kembali menuju musholla stasiun. Shalat pun mesti antri. Kapasitas musholla tidak memadai. Setelagmh berwudhu dengan air yang rupanya tidak jernih, saya akhirnya bisa shalat maghrib di kloter ketiga.

Waktu menunjukkan pukul 18.45 WIB, peron 5-6 masih saja tidak terlihat ruang lapang. Masih padat. Pada papan display, terbaca “Peron 6 – Maja – Ber Kp. Bandan”. Artinya kereta tujuan akhir stasiun Maja sudah berangkat dari stasiun Kampung Bandan. Saya menunggu. Ratusan calon penumpang lain pun sama. Menunggu kereta yang datang dari utara.

Klakson kereta terdengar di jalur 6. Kereta sudah datang. Kami masuk. Beruntung wajah-wajah lelah di kereta tidak dibuat menderita oleh pendingin udara yang rupanya bersahabat. Udara sejuk keluar mendinginkan keringat dan emosi kami. Kereta melaju meninggalkan stasiun Tanah Abang.

Stasiun Palmerah dan stasiun Kebayoran sudah saya lewati. Artinya sebentar lagi masuk stasiun Pondok Ranji. Saya bersiap. Kereta tiba di Pondok Ranji. Waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB. Perjalanan saya usai tapi belum bagi mereka yang harus menunggu kereta sampai di Maja.

Maja itu jauh. Saya takjub dengan mereka yang sanggup berdiri selama kereta berjalan. Memang sepertinya selepas stasiun Serpong, kereta mulai berkurang kepadatan. Tapi kursi kereta sedikit, pasti masih ada yang berdiri. Entah pukul berapa kereta sampai di Maja. Saya membayangkan pulang pergi 5 kali sepekan melintasi Tanah Abang – Maja. Salam hormat untuk para ayah yang menghidupi keluarganya, isteri yang berbakti pada suaminya dengan bekerja, dan pemuda-pemudi yang mencari makna hidup di sepanjang jalur Tanah Abang – Maja. Jakarta – Banten. Saya belum tentu bisa setangguh mereka.

Powered by WordPress for Android

Iklan

3 pemikiran pada “Kereta yang Ditunggu

  1. Salam dari mantan roker (rombongan kereta) Pdk Ranji. Boleh dijamin kamilah para roker terkuat karena mampu mendorong para penghuni kereta dr serpong Yg berada di Pintu hingga mereka terdesak mundur sampai 2baris ke belakang :p

    Btw Emang Ada kereta komuter Yg sampe kp bandan? Setau sy mentok di tnh abang deh. Kecuali pagi sama sore sih Ada Yg smp manggarai. #cmiiw

    • sepengamatan subjektif saya, penumpang ibu-ibu punya jiwa spartan tinggi yg bisa dorong orang di pintu sampe bisa ke tengah :v

      oh, maksudnya dari kampung bandan itu nampaknya cuma “parkir” aja disana khusus arah serpong dst, pintu dibuka tetep di tanah abang

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s