Kang Emil, Jakarta, dan Jomblo

221594_620

Ridwan Kamil | sumber: tempo.co

Dan walau gak nyambung, seperti biasa, bagi para jomblo, bersegeralah menikah agar panjang umur.

Hatur nuhun.

Kalimat di atas adalah penutup dari catatan Facebook yang dirilis oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil pada “tanggal cantik” 29 Februari 2016. Catatan tersebut menjawab rasa penasaran publik, apakah Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, akan maju atau tidak di bursa pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017. Jawabannya adalah tidak.

Secara politik, sikap ini menjawab penantian publik yang menggadang-gadang Kang Emil akan maju di bursa pemilihan Gubernur DKI. Sebelumnya, dunia politik memang tengah gaduh tentang pemilihan calon gubernur DKI.

Awalnya saya bersikap biasa saja akan pernyataan sikap Kang Emil tersebut tapi ketika pernyataan tersebut ditelusuri lebih lanjut, justru ada sebuah pesan tersirat yakni peduli akan kaum jomblo! Di catatan itu, Kang Emil selain memberikan keputusannya akan pencalonan gubernur, juga mengungkapkan dukungannya kepada kaum jomblo.

Penafsiran ini akan terasa aneh bagi masyarakat awam. Wajar saja, perlu maqam kejombloan hakiki agar bisa terbaca jelas. Oleh karena itu, mari kita ulas.

**

Gak takut kalah? Menang-kalah dalam hidup adalah biasa. Cinta saya pernah ditolak 2 kali. Kalah dalam sepakbola sering. Masuk arsitektur gara-gara tidak berhasil masuk Teknik Kimia ITB dan saya pernah dilecehkan berkali-kali saat di Amerika karena minoritas dan faktor ras.

Bagi para jomblo, paragraf ini menjelaskan arti kompetisi. Ya, kompetisi sangat lumrah bagi jomblo. Bagi jomblo, berlaku adagium Darwin, survival of the fittest. Ditikung orang lain, dicampakkan, atau ditolak, adalah bentuk kekalahan dalam kompetisi. Tapi kata Kang Emil: kompetisi adalah biasa. Ia melanjutkan kisahnya ditolak, kalah main bola, gagal masuk Kimia ITB. Ini sesungguhnya adalah pesan bahwa dari tiap kompetisi meski ada menang-kalah, harus ada sikap ksatria yang tabah.

**

Namun hidup tidaklah harus selalu begitu. Saya ingin bahagia tanpa mencederai. Saya ingin menang tanpa melukai.

Pernyataan di atas diungkapkan pada bagian yang menjelaskan kenapa Kang Emil ingin lebih dahulu menyelesaikan amanahnya di Kota Bandung. Jika ia jadi “kutu loncat”, maka akan ada yang tersakiti, yakni warga Kota Bandung. Bagi jomblo, ini adalah contoh yang tegas. Ketika kelak diwisuda dari status jomblo, janganlah meninggalkan luka dalam bagi kaum jomblo yang lain. Banyak kasus ketika seorang post-jomblo (istilah bagi yang sudah tidak menjomblo) menikah, ia malah membully mantan rekan senasib sepenanggungan di belakangnya. Khusus bagian ini, saya pernah mengulasnya di catatan tersendiri. (Baca: Memaknai Kejombloan Sebagai Sikap)

**

Mohon maaf lahir batin jika keputusan ini mengecewakan semua pihak yang sudah bersemangat menyampaikan aspirasi agar saya maju ke Jakarta di tahun 2017. Insya Allah semua indah pada waktunya.

Paragraf di atas bisa jadi patokan punchline jawaban ketika para jomblo ditanya pertanyaan menyakitkan. Kapan nikah? Kapan sebar undangan? Dan pertanyaan sejenis lainnya. Jawaban yang elegan dan tidak emosional.

Sebenarnya masih banyak pesan tersirat lain. Tapi, ah, silakan saja Anda mencarinya sendiri. Bagi yang mata batin kejombloannya terasah, pasti akan cepat menemukan. Dan satu lagi, bagi kaum post-jomblo, sadarlah, perkara bully-membully hanya akan menghasilkan lingkaran setan.

Perlukah saya lempar Anda dengan bunga… beserta potnya? Hatur nuhun.

Iklan

9 pemikiran pada “Kang Emil, Jakarta, dan Jomblo

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s