Seperti Mereka? Mari Coba Sekali Lagi

132

sumber: jurnalsegiempat.wordpress.com

Rabu malam (2/3), saya memilih untuk merenung gak jelas di sebuah restoran makanan sampah makanan cepat saji. Tidak ada beban pikiran yang meluap-luap sebenarnya. Walaupun begitu, karena dasarnya sebagai orang yang suka mikir, saya sangat memfavorit kan hal semacam ini. Sendirian, irit bicara, dan mata yang cenderung investigatif. Saya tidak mengkhususkan harus di restoran cepat saji atau sejenisnya tapi malam itu kebetulan tempat ini yang jadi tujuan.

Setelah memesan minuman yang murah, saya mengamati sekitar. Pojokan dengan stop kontak adalah idaman dan saya menemukannya malam itu. Mata investigatif menerawang kepo ke sekitar. Berharap menemukan cerita. Cerita seperti Newton yang dari ketiban apel saja bisa menemukan teori gravitasi. Sayangnya saya tidak seperti Newton. Fisika saya biasa saja. Matematika? Ah, disuruh hitung kembalian saja acapkali luput barang seratus dua ratus rupiah.

Saya akhirnya menemukannya. Eureka! Pandangan saya tertuju pada sebuah meja persegi panjang tidak jauh dari konter pemesanan. Meja dengan formasi tiga kursi di masing-masing sisi terpanjangnya itu tidak kosong. Tiga orang yang saya bisa nyatakan sebagai orang berumur alias tua. Tidak percaya? Baik saya deskripsikan. Ketiganya berambut putih. Salah satunya bahkan memiliki kulit kepala yang dominan ketimbang rambut. Garis wajah yang berlekuk. Keriput disana-sini. Ah, sudahlah, sebelum Anda menganggap saya menjelekkan orang lain, mari kita sebut saja mereka: tua.

Saya tidak tahu obrolan mereka. Mereka sedang makan. Khawatir ketika saya dekati, dikira modus minta traktir. Bercengkrama akrab seperti anak kuliah semester bawah. Tidak ada raut khawatir akan revisi skripsi ataupun galau dipermainkan dosen. Akrab. Tiga orang tua yang bercengkrama sambil makan junk food itu jelas membuat iri. Ada semacam pertanyaan dalam diri. Mereka bisa seperti itu. Kita? Mari kita coba.

Tak lama setelahnya, mereka keluar dari restoran. Lagi-lagi raut akrab satu sama lain masih kental. Mereka bisa seperti itu. Kita? Mari kita coba sekali lagi.

Aging is inevitable.

Growing up is an option.

***

Bonus: Cerita di atas ternyata “sudah” divisualisasi dalam video klip Sigur Ros, sebuah band post-rock asal Islandia, dalam lagu “Hoppipolla”.

Iklan

5 pemikiran pada “Seperti Mereka? Mari Coba Sekali Lagi

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s