[Review] Orang-Orang Proyek

Ahmad Tohari - Orang-orang Proyek

Ahmad Tohari – Orang-orang Proyek

Orang-Orang Proyek bercerita tentang pembangunan proyek jembatan di Sungai Cibawor di awal 90an. Kabul, insinyur muda dan idealis dipercaya sebagai pengawas proyek. Dalam proses pembangunan jembatan, idealisme Kabul selalu membentur keadaan yang masih sarat KKN sebagai “kelumrahan” orde baru. Anggaran proyek bocor disana-sini. Atasan dan bawahan Kabul pun menjadi bagian dari kebocoran proyek tersebut. Bahkan Basar, rekan diskusi ideologis Kabul ketika kuliah, juga ikut gamang dengan permainan proyek tersebut padahal Basar menjabat sebagai Kepala Desa dimana proyek tersebut dibangun yang seharusnya ia berkesempatan menancapkan idealismenya di desa tersebut.

Ada pula Pak Tarya, pensiunan pegawai kecamatan yang hobinya adalah memancing. Jiwa meminjam dunia pewayangan, Pak Tarya mirip tokoh Semar. Semar yang hobi mancing dan juga jago main suling. Kepada Pak Tarya, Kabul diskusi dan belajar banyak hal, tentunya sambil memancing. Disini filosofi memancing menjadi medium pembelajaran hidup Pak Tarya kepada Kabul tentang makna, kehidupan, dan juga kejantanan. #ups

Sebagai insinyur teknik, Kabul paham bahwa kebocoran anggaran proyek akan berimbas pada mutu jembatan yang dibangun. Hal inilah yang menjadi premis utama buku ini. Ditambah lagi, partai berkuasa saat itu, Golongan Lestari Menang (GLM), menggunakan segala cara untuk bisa eksis di jagat negeri.

Pergolakan semakin padat ketika Kabul juga mengalami masalah hati dengan Wati, juru tulisnya di proyek. Masalah dengan Wati juga membuat beban yang dipikul Kabul semakin banyak. Tapi dari sekian masalah yang mengusik idealismenya, Kabul selalu ingat akan pendidikan yang dia dapat dari sang biyung (ibu).

Kesan

Ada satu hal yang saya sukai dari gaya kepenulisan Ahmad Tohari, yakni deskripsi akan alam sekitar yang sangat detail sehingga pembaca. Hal itu sudah saya temukan di buku Ronggeng Dukuh Paruk dan juga Orang-Orang Proyek ini. Misal ketika bagian Pak Tarya memancing, dideskripsikan dengan sangat apik. Deskripsi dari Tante Ana, seorang waria yang jadi penghibur buruh-buruh proyek, juga sangat baik. Ada juga deskripsi sebuah susunan dialog yang dilakukan sambil makan siang. Penjelasan akan sayur asem yang disuap, pisang yang harum, dsb, membuat pembaca ikut merasa lapar. Deskripsi-deskripsi tersebut semakin memperkaya cerita dan urutan konflik yang dibangun dalam buku ini.

Bagian yang mungkin saya luput adalah lokasi keberadaan Sungai Cibawor. Sepanjang buku saya tidak bisa temukan secara gamblang dimana. Hanya saja, penyebutan lokasi lain sebagai keterangan dari tokoh tertentu mengisyaratka bahwa Sungai Cibawor ada di Jawa Tengah.

Terakhir, bagian paling kutip-able dari buku ini adalah:

Pusat makna permancingan tiba ketika gagang disentak dan nyata ada ikan yang kena. Akan terjadi tarik-ulur antara ikan dan pemancing, yang sesungguhnya adalah tarik-ulur antara harapan berhasil dan kecemasan akan kemungkinan gagal. Inilah makna itu. Bukankah keterlibatan dalam tarik-ulur antara harapan berhasil dan kemungkinan gagal sangat memenuhi kebutuhan dasar manusia bermain? homo ludens? – Ahmad Tohari, Orang-orang Proyek, h.15-16

Tegakkan kepalamu di hadapan mereka yang dibesarkan dengan makanan enak, serbamudah, dan mewah, tapi semuanya berbau neraka karena merupakan hasil korupsi dan hasil menipu rakyat. Percayalah, di hadapan kesejatianmu, mereka tak ada apa-apanya – Ahmad Tohari, Orang-orang Proyek, h.119

Iklan