Buat Apa Naik Gunung?

Papandayan - foto: ardiologi

Papandayan – foto: ardiologi

Mendaki bisa dibilang menjadi salah satu kegiatan populer saat ini di khazanah pergaulan anak muda. Entah pengaruh film atau memang generasi saat ini memang punya angka kebutuhan piknik yang tinggi (emang ada?). Yang jelas saat ini olahraga mendaki menjadi semacam kegiatan piknik yang mewabah.

Kesan pertama saya naik gunung adalah capek. Iya, bawa bawaan tas yang isinya mungkin lebih berat dari cucian numpuk satu minggu. Ditambah lagi olahraga ini kadang merepotkan. Merepotkan diri sendiri dan juga orang lain. Ada yang saking kebelet ingin menjadi barisan kekinian pegiat pendakian, mengabaikan keadaan fisiknya yang belum siap untuk kegiatan secapek itu.

Kadang merepotkan juga orang lain. Mendaki adalah salah satu olahraga yang tidak murah. Harga yang tidak murah ini tentu menjadi konsekuensi keselamatan si pendaki itu sendiri. Sehingga tak jarang kita melihat teman yang kebelet ingin naik gunung, merepotkan teman yang lain untuk urusan pinjam meminjam. Tapi beruntung kita tinggal di negara yang budaya gotong royongnya kuat, jadi untuk poin ini sebenarnya bukan hal yang haram. Hanya perkara sikap dan etika sahaja.

Berikutnya yang mencolok untuk para pegiat pendakian adalah setelah turun dan sampai di rumah, akan jadi puitis. Entah kesambet hantu penyair mana, yang jelas bahasanya jadi puitis, mellow, mendayu-dayu. Salah? Tentu saja tidak. Hanya kadang dalam ketika dibagikan ke media sosial, satu-satunya wadah para penyair dadakan ini, menjadi terlalu berlebihan.

Saya menuliskan ini bukan berarti saya antipati dengan kegiatan yang satu ini. Saya sebelumnya memang menjadi salah satu pelakunya. Jadi puitis dan merepotkan. Tapi di titik ini saya hanya merefleksikan, kadang untuk apa capek-capek masak indomie di atas gunung? Untuk apa capek-capek gali lubang untuk buang hajat? Sekedar ikut-ikutan? Sekedar ingin jadi (lebih) puitis? Atau memang “mengejar” sesuatu yang tidak bisa didefinisikan di kegiatan itu yang berkaitan tentang ketenangan jiwa?

#ntms

Iklan

18 pemikiran pada “Buat Apa Naik Gunung?

  1. Berbahagialah buat yg punya pasangan dan hobi naik gunung…pengalaman bawa anak orang ke cibodas baru di pintu masuk udah nanya “masih jauh ya?” =__=

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s