Puisi dan Rendang

image

Pantai Ampenan, Mataram, NTB

Kadang kalau kita santap nasi padang dengan rendang, kita akan dapat dua kemungkinan: dagingnya empuk atau dagingnya alot.

Puisi pun, saya rasa, mirip daging rendang. Ada puisi yang “empuk” dan mudah dicerna. Ada juga puisi yang alot, keras, dan sulit dicerna. Sekalipun dicerna, malah menyebabkan susah BAB.

Kemampuan saya menyerap rentetan diksi dan segala bentuk makna yang ada dalam suatu puisi memang boleh dibilang payah.

Pernah suatu ketika, saya membaca puisi dan saya malah bingung. Mungkin puisinya yang bertujuan bikin bingung atau memang saya yang payah.

Tapi saya pernah baca juga, puisi yang lugas dan terang-benderang. Dan saya sudah memfavoritkan beberapa kreator itu. Tidak banyak, hanya puisi buatan dia, dia, dan dia.


NB: Dibuat ketika saya menemukan puisi yang tidak bisa dicerna dengan cepat. Mohon maaf jika gambar ilustrasi tidak nyambung**

Iklan

11 pemikiran pada “Puisi dan Rendang

  1. Saya juga suka rendang :haha.
    Kalau saya lagi menemukan sesuatu yang susah saya pahami, pilihannya cuma dua: dibaca lagi lain hari jika saya tertarik, atau ditinggalkan :haha. Beberapa golongan orang memang punya energi otak yang jauh lebih tinggi dari saya jadi kita punya bacaan masing-masinglah :hehe. Toh membaca itu supaya enjoy kan, bukan supaya mumet :p.

    • nggak gitu juga sih kesimpulannya

      lebih ke kemampuan aja, ya anggap aja lambung saya ini punya maag jadi ga bisa cerna dengan baik.hehe

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s