Ketika Api Padam

funny-warning-sign-do-not-set-self-on-fire

sumber: amusingtime.com

Ketika penggalan puisi Sapardi Djoko Damono dengan kata kunci “tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni, dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu” sudah gentayangan di mana-mana, ini artinya sudah masuk bulan keenam penanggalan masehi. Ya, sudah masuk bulan Juni.

Ah, ada apa di bulan Juni, terlebih di 2016?

Kalau boleh saya bilang, ini adalah masa dimana terjadi “kebakaran” yang membesar dan “kebakaran” yang padam.

Kalau boleh dikatakan bulan ramadhan adalah bulan “pembakaran” semangat beribadah, saya setuju. Ramadhan dimulai di awal bulan Juni. Semoga bisa “membakar” rohani.

Di sisi lain, ada api yang mulai padam. Api yang seharusnya saya jaga untuk terus berakselerasi. Kemudian saya coba telusuri, ternyata api padam dengan sebab yang jelas. Hukum alam menyatakan bahwa api terdiri dari 3 hal yang berkaitan satu dengan lainnya: bahan bakar, udara, dan pemantik.

Jika sudah terbakar, berarti pemantik sudah melakukan tugasnya. Kita singkirkan sementara aspek ini.

Terduga sebab tinggal dua, bahan bakar dan udara.

Bahan bakar bisa berarti suatu anasir yang harus terus menerus dipasok. Bisa semacam wawasan, ilmu, ataupun pengalaman.

Udara? Sepertinya tentang sesuatu yang menyesakkan di dalam dada.

**

Iklan

8 pemikiran pada “Ketika Api Padam

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s