Kapten Kapal

image

Kapten mendengar suara gaduh di ruang mesin. Pekak sekali sehingga bisa terdengar ke ruang kemudi. Kapten memanggil kru mesin via radio. Nihil. Tidak ada tanggapan.

Kapten mengintip radar. Tidak ada gugusan karang beberapa mil laut di depan. Kapten mengunci kemudi dan kecepatan untuk beberapa menit ke depan. Ruang mesin menyita perhatiannya, ia ingin turun.

Lencana emas pertanda kapten di pundaknya menambah wibawa walaupun seperti dibuat-buat. Melangkah mantap, kapten menjejak tangga turun ke ruang mesin dengan terlebih dulu melewati ruang juru masak.

Tidak ada kru di ruang juru masak. Radio yang digantung di ikat pinggangnya berdenging. Suara riuh ruang mesin terdengar melatari tanpa ada seseorang yang benar-benar berbicara di balik radio. Walau seperti meledek, kapten tetap tenang. Kepalanya selalu lebih dahulu ketimbang mulutnya.

Kapten menunggu suara riuh terputus. Radio komunikasi memang menyebalkan. Harus bergantian mendengarkan dan sabar menunggu giliran bicara. “Ruang mesin”, kapten dapat giliran berbicara di radio “mohon lapor situasi”. Hening beberapa detik. Tidak ada respon.

“Juru masak mohon lapor”, kapten berbicara lagi di radio. Dan kembali hening.

Kapten mempercepat langkah. Lantai kapal beradu dengan sepatu dan mengeluarkan nada bertempo cepat. Setelahnya, kapten tiba di ruang mesin.

Suara gaduh terdengar di seberang dinding melebihi deru mesin. Gagang pintu diputar.

Pintu dibuka dan tiba-tiba kapten menelan jakun. Ruang mesin kosong. Hanya ada bunyi benda mati dari mesin yang dihidupkan. Tidak ada orang.

Masih di dalam kebingungan, terompet kapal tiba-tiba berbunyi dan haluan bergeser. Ia bergegas kembali. Kini ia khawatir dengan kemudi. Khawatir kapal dibajak, entah oleh siapa. Lagi-lagi kepala kapten berpikir mendahului kekhawatirannya.

Kapten berlari. Radio di pinggangnya berbunyi dan suara gaduh orang terdengar. Ia tidak menanggapi. Prioritasnya kini ada di kemudi kapal. Jelang di ruang kemudi, sambil memasang muka waspada, kapten memperlambat kakinya. Ia matikan radio di pinggang.

Kapten buka perlahan ruang kemudi dan terkejut ia tidak mendapati siapapun dan apapun. Ia seperti memasuki ruangan yang salah padahal yakin itu adalah ruang kemudi. Ini adalah kapalnya dan paham setiap inci ruangannya.

Dalam kebingungannya, kapten meraih radio di pinggang dan terkejut mendapati radionya raib.

Kapten kembali terkejut ketika mendapati pakaiannya berganti. Meraba ke sekujur tubuh, tidak ada lencana emas di kedua pundaknya.

Kapten menutup mata di tengah kepanikannya dan ketika membuka mata, ia sedang tidak berada di kapal apapun.

Sejurus ia sadar, dia tidak pernah merasa menjadi kapten kapal.
**

Iklan

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s