Memahami Motif Seorang Ayah

Nelayan

Nelayan | Foto: ardiologi

Beberapa waktu lalu, setelah ikut suatu acara di Gedung PBNU Jakarta, saya memutuskan pulang dengan ojek mobil online alias GrabCar. Jakarta sudah gelap, waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB. Mobil yang dipesan tidak kunjung datang. Ada sedikit rasa jengkel ternyata ketika dicek melalui aplikasi, mobil malah berputar setelah sebelumnya sempat melewati saya berdiri.

Mobil dengan merk sejuta umat itu sudah tiba dan saya bergegas naik. Pengemudi Grabcar adalah misteri. Kadang saya mendapatkan yang asyik diajak diskusi. Kadang juga saya mendapatkan seperti Master Limbad. Diam dan cenderung tidak asyik. Memang setiap orang punya preferensi yang berbeda mengenai interaksi dengan pengemudi. Saya sendiri lebih memilih fleksibel. Jika sang pengemudi nyambung, maka saya bersedia saja berdiskusi. Jika tidak, saya memilih tidur atau stalking IG orang blog orang.

Pengemudi yang saya dapatkan malam itu adalah seorang bapak, yang saya kemudian tahu usianya sekitar 58 tahun. Memang, proses diskusi atau pun ngobrol di perjalanan tidak pernah terencana. Semua spontan. Sampai pada suatu tema, si bapak pengemudi menyatakan bahwa dia adalah seorang pensiunan PNS dari sebuah kelurahan di Jakarta Timur. Beliau pensiun di tahun 2013 lalu. Ia bilang bahwa nyupir GrabCar agar bisa nambahin pendapatan karena tidak bisa mengandalkan uang pensiun semata.

Cerita yang sangat tipikal, atau kalau boleh kasar: klise!

Tapi kemudian saya menyimak dan menyimak. Terus menyimak. Akhirnya saya mendapatkan sebuah cerita. Bahwa ketiga buah hatinya adalah anak yang berprestasi. Semuanya masuk ke kampus masing-masing melalui jalur prestasi alias tanpa tes. Dua anaknya di kampus negeri yang cukup prestis. Satu lagi saya lupa dimana.

Kemudian saya tanyakan lagi sampai kapan biasanya si bapak narik? Dijawab, “kadang sampai jam 1 pagi”. Bapak ini narik  di area Jakarta dan pulang ke daerah Cibubur. Dan ini sudah dilakukan selama beberapa waktu belakangan.

Mobil melaju dan saya merasakan bahwa bapak ini sangat lelah. Terlihat dari laju dan kendali mobil yang “beda”. Sampai di daerah Cawang saja beliau salah keluar tol. Sampai akhirnya saya tiba di tujuan dan secara spontan saya bilang, “bapak kayaknya capek banget, istirahat aja, pak”.

Pertanyaan yang ada di kepala saya adalah “apakah ketika menjadi seorang bapak harus selalu seperti itu?” Ah pertanyaannya keliru. Mungkin pertanyaan yang tepat, “bagaimana agar jadi seperti itu?”.

**

Iklan

5 pemikiran pada “Memahami Motif Seorang Ayah

  1. Yak… setiap bapak akan seperti itu, yakni bekerja semaksimal yang dia bisa untuk keluarganya. Karena, makna cinta pada seorang bapak adalah tanggungjawab..

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s