Jika Kabinet Punya Grup Whatsapp

Whatsapp

Whatsapp

Saya kira Mas Anies Baswedan, Om Ignasius Jonan, dan terakhir Pak Arcandra Tahar sudah tidak bergabung di grup WA (Whatsapp) Kabinet Kerja. Jika tidak left group dengan sendirinya, pasti mereka di-kick oleh Menteri Sekretaris Negara, yang job description-nya memungkinkan untuk jadi admin grup WA Kabinet Kerja.

Kehadiran Whatsapp dipastikan mengubah kiblat komunikasi berbasis pesan beberapa tahun terakhir. Fenomena ini selaras dengan penetrasi ponsel cerdas (pintar?) berbasis Android dan internet yang mudah diakses meskipun masih mahal. Pertumbuhan yang pesat. Menurut situs ini, pengguna Whatsapp per April 2013 “baru” 200 juta lalu per Februari 2016, melonjak jadi 1 milyar pengguna. Bisa dibilang 1/7 penduduk bumi punya Whatsapp.

Jadi, jika ada yang masih minta dihubungi via SMS, kemungkinannya dua. Pertama, kuota internetnya habis. Kedua, dia masih jadi bagian 6 milyar penduduk bumi yang belum punya Whatsapp. Hehe…

Saya sendiri merasakan bagaimana transisi dari SMS ke Whatsapp. Tepatnya di masa kuliah yang 4 tahun lebih. Di semester-semester awal, segala bentuk jarkom (jaringan komunikasi) masih menggunakan SMS. Di jelang semester akhir, baru lah grup Whatsapp menjadi sarana untuk segala jenis jarkom hingga diskusi ngalor-ngidul.

Saya menduga, di zaman rezim presiden SBY, Menteri Sekretaris Negara memberitahukan undangan rapat menteri yang sifatnya mendadak hanya via telepon atau SMS. Di era rezim presiden Jokowi, tuntutan zaman membuat para menteri kabinet kerja sepertinya harus punya Whatsapp. Untuk tahu info hangat (bahkan panas) atau sekadar membagikan pesan berantai yang isinya sumir. Ya, tipikal grup Whatsapp belakangan ini lah.

Tapi grup Whatsapp pun bukan berarti tidak punya kelemahan. Saya yakin kamu pernah menemui orang yang debat kusir di grup Whatsapp yang kamu ikuti. Atau malah kamu sendiri yang baper (terbawa perasaan-red) dan pundung (sedih-red) akibat suatu obrolan.

Saya membayangkan grup Whatsapp Kabinet Kerja ketika isu reshuffle berhembus kencang. Media sudah menggoreng sana-sini. Ada menteri yang tersorot kemudian baper. Menteri itu lantas ingin left group secepatnya walaupun pengumuman resmi reshuffle belum ada.

Kemudian, ada menteri yang merasa di-no mention oleh menteri lain perihal masalah kewarganegaraan seorang Paskibraka.

Lalu ada juga eks menteri yang terang-terangan diinterogasi masalah kewarganegaraannya.

Atau ada menteri yang tiba-tiba jadi silent reader ketika Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta kebanjiran dan dikritik Sophia Latjuba. Menteri yang bersangkutan dijapri oleh menteri lain atau mungkin oleh presiden langsung. Tapi ternyata statusnya tidak online dan pesan hanya bertanda ceklis 2 tanpa muncul warna biru (tanda pesan sudah terbaca-red).

Bahkan saya yakin, ada kumpulan mantan menteri “korban” reshuffle yang bikin grup Whatsapp baru dan mentertawakan apa saja yang penerus mereka lakukan di kabinet.

***

Iklan

27 pemikiran pada “Jika Kabinet Punya Grup Whatsapp

  1. ini semacam pengalamankah pernah left dr grup dan melakukan poin2 itu? #eh 😀

    tahun 2013 sy blm menjadi bagian dr 200 juta orang itu. baru setahun kemudian saya bergabung. ahaha..

  2. hahaha lucu juga yaaa…
    kalau saya termasuk yang silent reader, kadang ada grup yang gak terlalu saya gubris sama sekali tapi juga gak bisa left karena gak enak sama admin yang merupakan teman sendiri hihi

  3. Aku gak byk ikut group WA, itupun lebih sering jadi silent reader. Eh aku juga ada pake opsi mute 1 year no notif itu, Mas 😂😂

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s