Peran Kucing Terhadap Peradaban

image

Brotherhood

Kucing. Mamalia yang kerabat jauh harimau ini adalah koentji peradaban. Mitologi Mesir kuno bahkan menempatkan kucing sebagai salah satu tokoh sentral.

Tapi kini bagi sebagian orang, kucing tidak lebih dari residivis kambuhan yang suka maling ikan goreng di meja makan. Menurut saya, orang seperti ini harus dicakar kucing dan merefleksikan peran kucing bagi peradaban. Minimal bagi kehidupannya sendiri.

Mari kita ulas dari sudut pandang cocoklogi.

1) Kucing adalah simbol bargaining positioning yang kuat
Tidak ada kucing yang 100% patuh. Tapi tidak ada juga kucing yang 100% membangkang. Memang ada kucing yang dipanggil malah lari. Tapi tidak ada kucing yang cukup sombong untuk menolak diberi makanan. Inilah keteguhan nilai tawar sejati. Tidak “membebek” tapi di sisi lain tidak subversif.

Tapi jangan pernah suruh kucing makan tikus got. Kucing akan menolak. Sepertinya kucing sekarang sudah renegosiasi rantai makanan dengan tikus.

2) Kucing adalah indikator kesejahteraan manusia
Sederhana saja. Jika kamu temukan kucing gemuk di suatu tempat, maka dipastikan manusia di sekitar tempat itu cukup sejahtera. Memang tidak semua kucing yang gemuk dapat pos anggaran makan dari manusia di sekitarnya. Setidaknya ini bisa dilihat dari kucing liar. Jika tong sampah di sekitar si kucing masih menyisakan makanan bernutrisi, maka manusia di tempat itu kemungkinan culup sejahtera.

Tapi sebaliknya, jika banyak kucing yang mengenaskan kondisinya, kemungkinan manusia di sekitarnya belum sejahtera. Itu karena makan untuk diri sendiri saja susah. Bisa jadi juga manusia sekitarnya terlalu pelit berbagi makanan dengan kucing. Bukankah umumnya ciri orang sejahtera adalah tidak pelit?

3) Kucing adalah obat stress dosis tinggi
Setidaknya ini berlaku bagi saya sendiri. Secara de jure, saya memang tidak pernah memelihara ataupun mengadopsi kucing. Tapi saya beruntung, lingkungan sekitar dipenuhi kucing. Kucing yang gemuk dan sehat tentunya. Kucing adalah stress relief tanpa obat-obatan. Kucing yang bisa diajak akrobat guling-guling jauh lebih menenangkan ketimbang ikut seminar motivasi yang HTM early bird-nya saja bisa buat DP motor.

Malah kalau ikut seminar yang demikian malah tambah stress, kan? #ups

Bayangkan jika tiga poin di atas terjadi di semua tempat secara simultan. Bayangkan betapa besar pengaruh kucing bagi kehidupan. Bagi peradaban.

Demikian paparan dari saya. Saya memang tidak mengulas kucing dari sudut pandang antropologi maupun medis. Kamu boleh kecewa dengan saya tulisan ini.

Tapi jangan pernah kecewa dengan kucing!


*Terinspirasi dari kucing-kucing gembul di kost.

Iklan

33 pemikiran pada “Peran Kucing Terhadap Peradaban

  1. aku masih suka lihat kucing makan tikus. itu liatnya juga jijik.
    kucing sebagai penghilang stres, aku gak setuju soalnya gak suka kucing. kucing di tempat kerja ngeselin sih soalnya.huahahaha

  2. Masa kucing udah gak selera dengan tikus got?
    Kalau kucing urban mungkin iya. Biasa makan sisa makanan bernutrisi sih
    Yeay! Kita memang suka kucing πŸ˜€

  3. Di kosan saya malah kucing ibu kosan malah ga boleh masuk, padahal kucingnya gemuk dan gemessin,,, tapi pada ga trlalu suka hewan soalnya suka pup sembarangan hahaha

    • wah itu pemahaman yang harus diluruskan:
      kucing mah ga kenal istilah sembarang atau nggak, kenalnya teritori, kalo pup di kosan, berarti dianggap wilayah kekuasannya :v

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s