Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Merbabu

merbabu_0097e

Pos Watu Lumpang Merbabu

Sabana 2

Dari tempat berkemah di Sabana 1, kami menuju Sabana 2. Tidak ada pemandangan apapun. Hanya kabut. Kami bergegas menggapai tanjakan menuju Sabana 2 dengan susah payah.

Watu Lumpang

Dari Sabana 2, masih ada bonus trek datar sebelum menanjak menuju Watu Lumpang. Di tengah badai, bukan perkara mudah menanjak di pijakan yang basah. Licin. Kami harus berhati-hati.

1 jam kami butuhkan untuk sampai dari Sabana 2 ke Watu Lumpang.

Watu Lumpang merupakan pos terakhir sebelum menuju puncak. Sesuai namanya, di sini ada sebuah lumpang alias tempat menumbuk yang terbuat dari batu. Di tengahnya digenangi air dan ada bunga-bunga sesaji.

Tanjakan Terakhir

Seperti halnya pujangga menunggu kekasih hati, perjuangan belum lunas jika belum ditunaikan. Semangat ini yang menyertai kami untuk menuju puncak gemilang cahaya mengukir cinta seindah asa Merbabu.

Kabut sudah semakin tidak karuan. Pekat.

Angin? Seperti sedang pada puncak kecepatannya. Badan pun terasa terhempas ketika angin berhembus kencang. Sesekali kami berlindung di pohon edelweis agar bisa menghindari terjangan angin. Jari-jari sudah semakin kaku. Jaket semakin basah akibat kabut yang juga ikut menerbangkan uap air. Sarung tangan menjadi kurang berguna ketika basah.

Pijakan menuju Puncak Triangulasi Merbabu di ketinggian 3142 mdpl semakin sempit dan licin. Cuaca seperti tidak mengizinkan kami menuju puncak.

Tidak jauh di depan, pandangan sudah mulai habis. Artinya puncak semakin dekat. Saya yang berada di belakang barisan, mau tidak mau terus merayap mengikuti barisan depan.

Dan.

Puncak!

Akhirnya Puncak Triangulasi Merbabu di ketinggian 3142 mdpl bisa kami gapai. Di puncak, waktu kami terbatas atau kami akan kedinginan. Jaket semakin basah. Lekas semua anggota tim mengabadikan pencapaian ini.

Bukan perkara mudah menyalakan ponsel dengan jari yang hampir mati rasa. Kami mendokumentasikan diri secukupnya. Tidak lebih dari 15 menit kami di puncak. Kami bergegas turun.

Sebenarnya ada puncak lain selain puncak Triangulasi, seperti Puncak Syarif dan Puncak Ketheng Songo. Tapi berhubung badai tidak kunjung reda dan energi juga mulai menipis, kami memutuskan turun.

whatsapp-image-2016-10-23-at-14-29-17

Puncak Triangulasi Merbabu 3142 mdpl

Langit Cerah Setelah Badai

Seperti yang saya singgung di awal, badai angin dan kabut sekian jam akhirnya lunas terbayar dengan pemandangan setelahnya. Ketika perjalanan turun menuju Sabana 2, kabut berangsur-angsur hilang. Langit semakin membiru.

Keindahan Merbabu akhirnya tersingkap.

Padang Sabana yang hijau mendominasi sejauh mata memandang. Indah sekali. Ketika sampai di suatu titik di Sabana 2, Merapi gagah menjulang di seberang sana.

Kami memutuskan mengambil gambar terlebih dahulu di Sabana 2.

Setelah puas di Sabana 2, keindahan pemandangan semakin tidak bisa dihindari.

Overdosis keindahan.

Dari turunan Sabana 2 menuju Sabana 1, pemandangan Boyolali, Semarang, bahkan Magelang bisa terlihat. Di kejauhan, Gunung Lawu terlihat dengan jelas. Pemandangan ke arah Sabana 1 pun tidak kalah indah. Tenda yang kami tempati terlihat mungil dari posisi pandang kami.

Speechless.

img_20161022_112909-01

Jalur Menuju Puncak Triangulasi Merbabu

DCIM100MEDIA

Selfie Latar belakang Merapi

[Epilog] Ada Cinta di Ketinggian

Mendaki Gunung Merbabu via jalur Selo Boyolali memiliki pengalaman unik tersendiri. Berbeda dengan gunung lain yang pernah saya daki sebelumnya. Di Merbabu, saya belajar banyak hal, antara lain:

  1. Persiapkan air yang cukup karena jalur Selo tidak ada sumber air
  2. Penggunaan trekking pole akan sangat membantu
  3. Berkemah dekat dengan pohon untuk menghindari terjangan angin.
  4. Setting kamera ponsel dengan benar, saya menyesal karena terlalu bersemangat bereskperimen dengan kamera ponsel, foto yang saya ambil malah ngawur tone-nya.

Sekian catatan panjang ini. Semoga kamu baca. Iya, kamu.

**

 

NB:

  • Nomor Kontak Pak Nardi – 0813 9312 1405

31 pemikiran pada “Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Merbabu

  1. Jadi pengin ikut naik gunung, euy. Ayo dilanjutkeun Mas, badainya kan belum kelihatan di sini, hehe. Kapan-kapan mau dong ikut Mas kalau naik gunung, cuma gunungnya jangan yang tinggi-tinggi, yah. Masih nubie nih, jadi pengennya yang ada eskalatornya (itu naik gunung apa mau ke emol yah, haha).

  2. Aaakk kece bgt view-nya. Smg jadi gue ke Merbabu brg temen akhir thn nanti. Btw parahan mana sm Ciremai treknya? Tapi enak ya ada Sabana-nya gak kayak Ciremai yg hutan2 acan.

    Tfs. Infonya oke bgt (y)

  3. Ping balik: Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Lawu | ardiologi

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s