Festivalisasi Rasa Benci

image

Saya pertama kali mendengar istilah “festivalisasi” ketika ramai KPK mem-blow up penanganan suatu kasus. Gawatnya dari hal tersebut adalah muncul pengadilan opini yang melangkahi pengadilan sesungguhnya.

Saya rasa konteks festivalisasi juga berlaku untuk hal lain, misal tentang kebencian. Setiap orang pasti memiliki kebencian akan sesuatu (atau seseorang). Wajar jika itu tersembunyi rapat, dikunci erat-erat. Akan tetapi jadi gawat ketika kebencian itu difestivalisasi. Jelas mengundang keramaian. Dan hal yang paling berbahaya dari keramaian adalah terdahuluinya adrenalin daripada kepala dingin.

Dan festivalisasi, sebagaimana contoh di atas, juga berlaku untuk hal lain yang lebih sepele, misal festivalisasi kejengkelan atau kekesalan. Publik tergiring. Publik diajak menghakimi.

Jika sudah begini, solusinya adalah antepkeun weh (diamkan-red) dan balas dengan karya.  Sesaat opini sudah reda terpikir memang untuk “susul balik”. Kasih tekling keras. Incar ulu hati. Beri tinju uppercut ke arah dagu.

Tapi baiknya jangan karena itu perbuatan yang tida hqq.
**

Iklan

3 pemikiran pada “Festivalisasi Rasa Benci

  1. Mungkin KPK rada gemes dibilang nggak ada kinerjanya padahal menginvestigasi dan menangani kasus tanpa diblow-up. Sama kayak terorisme dan kasus narkotika yang dibilang “nggak segera ditangani nih” padahal pasti sedang diusut meskipun tidak dibeberkan ke publik. Ujung-ujungnya jadi festivalisasi.

    Cuma yang rada heran sih festivalisasi rasa benci ini. Kebebasan berpendapat kok sekarang malah jadi alasan untuk menunjukkan hal-hal yang kurang tepat di ranah publik, salah satunya ya ujaran kebencian tadi. Setiap orang memang punya preferensi pribadi, suka ini, nggak suka itu, tapi apakah perlu untuk diungkapkan ke publik dengan ajakan kebencian? Cari temen yang sependapat mungkin? Atau memang senang menjadi penggerak opini? Menimbulkan rasa memiliki pengaruh di kalangan umum? Hmm.. aku pun belum ngerti.

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s