Review Dunkirk (2017)

mv5bmtgxnjq3odcxml5bml5banbnxkftztgwnte5ode1mji-_v1_sx1777_cr001777744_al_

“400.000 men couldn’t come home, so home came for them” – sumber: IMDB

PERINGATAN: Banyak spoiler

Film dengan latar belakang kejadian nyata akhir-akhir ini banyak yang tayang. Salah satu “keuntungan” dari film dengan format semacam ini adalah penonton akan pasang ekspektasi sesuai dengan apa yang dibaca di artikel sejarah. Film Dunkirk merupakan salah satunya.

Dunkirk (2017) merupakan film dengan latar belakang salah satu fragmen Perang Dunia Kedua. Yakni fragmen evakuasi ratusan ribu tentara sekutu (Inggris, Prancis, dan Belgia) yang terdesak mundur oleh tentara Jerman di kota Dunkirk, Prancis. Tentara sekutu terdesak hingga ke tepi pantai dan berharap bisa mengevakuasi diri sesegera mungkin via laut. Bukan hal yang mudah, bahkan ketika evakuasi pun, gempuran pasukan Jerman tidak berhenti dari jalur udara, darat, dan laut. Akhirnya pihak Inggris mengerahkan evakuasi menggunakan kapal nelayan sipil untuk menghindari hilangnya banyak armada laut mereka.

Jujur, hal yang mendorong saya untuk menonton film ini adalah faktor sutradara. Ya, tak lain dan tak bukan, film Dunkirk digarap oleh Christoper Nolan. Bagi yang belum tau, Nolan adalah sutradara yang membuat film-film keren (yang pernah saya tontn) di antaranya: trilogi Batman (2005, 2008, 2012), Interstellar (2014), Inception (2010), The Prestige (2006) dan yang agak jadul: Memento (2000).

Karakter Utama? Lupakan

Karena ini adalah film garapan Nolan, di awal saya sudah pasang ekspektasi bahwa apapun bisa terjadi di film Dunkirk ini. Dan terjawab. Di film ini nyaris tidak ada karakter yang menonjol. Semua kebagian porsi peran dan intense yang mirip-mirip. Ada Harry Styles? Ya, ada, dan doi nyaris kejepit kapal karam. Tom Hardy? Ada, jadi pilot dan lebih sering pakai masker pilot. Film Dunkirk ini memegang teguh konsep kolosal, saking kolosalnya, sulit menemukan tokoh kunci. Bahkan saking banyaknya orang, penamaan tokoh pun tidak jadi fokus. Jadi semacam inget muka ga tau nama.hehe

Multiplot

Spoiler nih. Film ini plotnya ada 3: pertama, di The Mole (dermaga/bendungan). Kedua, di kapal nelayan. Ketiga, di pesawat tempur Spitfire. Masing-masing punya durasi penceritaan yang berbeda. Di dermaga, rentang penceritaannya adalah satu pekan. Di kapal nelayan waktunya satu hari. Dan di pesawat Spitfire menceritakan satu jam.

Anda bingung? Ya, saya juga, awalnya. Tapi setelah dihayati, kok jadi seru. Semuanya terjahit di akhir.

Memanjakan Mata dan Telinga

Asiknya mz Nolan ketika menggarap film adalah membawa paket pemain ataupun tim di balik layarnya yang sudah jadi ciri khas. Dan di Dunkirk ada Hans Zimmer! Kalau Anda ingat “indahnya” latar musik ataupun efek suara yang menambah ketegangan di film Interstellar ataupun Inception? Pakde Zimmer lah orang yang menggubahnya.

Di Dunkirk, Hans Zimmer sukses membuat penonton merasa tegang ketika adegan yang intens dipadukan dengan musik yang intens juga. Bahkan di beberapa bagian membuat penonton terperandjat alias kaget. Film ini audionya sangat hqq jika ditonton di bioskop. Suara bising pesawat, suara peluru yang bising, suara bom, dll. sangat “kena” dan menjadi nilai tambah untuk menonton.

Selain itu, visual film ini cukup memuaskan mata. Pewarnaan/grading cenderung ke arah bluish mirip-mirip Saving Private Ryan. Bedanya, ada nuansa teal and orange seperti film Transformers.

Epilog

Endingnya, sebagaimana sejarah mencatat, ribuan tentara bisa pulang dengan naik kapal nelayan. Cuma kasihan aja di endingnya pesawat Spitfire milik Inggris yang susah payah menembak pesawat tempur dan pesawat bomber Jerman harus kehabisan bensin, mendarat di Dunkirk, dan pilotnya (Tom Hardy) malah ditawan pihak Jerman alih-alih ikut evakuasi pulang ke Inggris.

Apakah ekspektasi saya di awal sebelum menonton terbayarkan? Jawabannya, tentu saja. Tapi tetap ada catatan. Catatannya adalah film ini durasinya terasa kurang. Udah itu aja.hehe

**

Iklan

12 pemikiran pada “Review Dunkirk (2017)

  1. jiah jadi.. dunkirk adalah tempat pesawat nya mendarat karena keabisan bensin di terakhir film.. klo gw yang nonton udah bingung dari awal… kenapa filmnya dinamakan dunkirk sedangkan gak ada orang yang namanya dunkirk.. :p

  2. Bagus, suka reviewnya. Tapi terlalu singkat kayaknya wkwkwk, kaya yg filmnya seperti km bilang. Emang durasinya brp menit mas ardi? Sutradara itu emang top.

  3. Ping balik: [Review] Murder on The Orion Express (2017) | ardiologi

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s