Tentang Tinggi

538.jpg

Satu hal yang paling saya hindari, selain daun seledri, adalah naik angkot ketika bepergian ke suatu tempat. Terlebih naik di kabin belakang. Jika pun terpaksa, saya pasti akan pilih duduk di kabin depan sebelah kiri sopir. Alasannya sederhana. Kabin belakang angkot sangat tidak ramah untuk orang bertinggi badan lebih dari 175 cm. Dan tinggi badan saya terakhir terukur 183 cm.

Tinggi badan tersebut jika naik angkot ke bagian kabin belakang adalah bencana. Terlebih jika harus naik sampai ke ujung kursi yang berbatasan dengan buritan mobil. Rasanya seperti sedang olahraga susur goa. Kepala harus menunduk dan harus senggol kiri-kanan. Terlebih harus waspada dengan barang bawaan karena bisa saja ada copet menyamar jadi penumpang. Lengkap sudah.

Jika menilik statistik dari situsΒ averageheight.co, rata-rata tinggi badan orang Indonesia adalah 158 cm. Atau data yang lebih kompleks di situs ourworldindata.org, tinggi rata-rata berada di antara 160-165 cm.

Sepertinya data inilah yang menjadi pertimbangan perusahaan karoseri pembuat bus atau kereta api dalam menyusun jarak antara kita kursi. Selain angkot, kereta ekonomi, bus besar formasi kursi 3-2,Β  dan duduk di mobil penumpang baris ketiga adalah hal berikutnya yang saya hindari. Tapi untuk pesawat kelas ekonomi, bus kota kelas eksekutif, dan kereta api, masih aman.

Selain kekurangan yang saya dapat di atas, tentu pasti ada kelebihan lain. Misal ketika berdiri di keretaΒ Commuter Line,Β saya bisa dapat ruang udara segar ketika berdiri berdesakan. Pun ketika nonton konser atau sejenisnya, pasti pandangan paling aman.

Tujuan saya menulis ini adalah refleksi ketika harus (terpaksa) naik angkot. Di balik ketidaknyamanan yang dirasakan, harus ada hal yang dikompromikan. Betul, ‘kan?

Heh, kamu, iya, kan?

Iklan

28 pemikiran pada “Tentang Tinggi

  1. Tinggi banget ya wkwkw. Pas SMA aku jg punya temen mungkin kayak kamu jg tingginya,tinggi banget. Mau masuk pintu rumah aja sampek nunduk kepalanya πŸ˜€

  2. Yang tinggi badannya minimalis kayak aku juga rempong bang, kalo naek krl harus berdiri deket pintu biar bisa pegangan tiang (soalnya kalo pegangan atas capek bener πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚)

  3. Wah tingginya.. 183. Kamu pemain basket ya? Naik angkot memang banyak resikonya sih. Tapi sekarang dah banyak ojek online, loh. πŸ˜€

  4. Saya jadi merasa minder baca artikelmu mas, tahu sendirilah gimana rasanya jadi lelaki dengan tinggi badan yang nggak tinggi-tinggi banget. 😦

  5. Wah dirimu tinggi banget Mas, wkwk. Tapi kalau di luar negeri pasti lebih nyaman ya. Soalnya di luar negeri kan malah rata-rata tinggi badan para prianya segitu jadi semua bangunan dan kendaraan didesain sedemikian rupa, hehe. Tetap semangat ya Mas, banyak keuntungannya punya badan tinggi. Saya yakin lebih banyak kesempatan untuk berbuat baik, hehe.

  6. anjayy, km maen basket apa jadi kiper gitu lho mas. dan kalo misal kamu naik gojek, drivernya gak kelihatan dr belakang, jd dikiranya km yg pegang motornya haha

  7. Plus minus ya badan tinggi, tapi paling sirik sama orang tinggi ketika lagi nonton konser di standing area, enak banget ngga kehalang apapun rasanya πŸ˜‚πŸ˜‚

  8. Oh~ akh ardi itu 183 cm :v kirain 185 keatas.

    Alhamdulillah aku aman naek angkot dengan tinggi 163 cm.

    Tp tidak mendapatkan udara segar saat berdesakan di Commuter Line. Huhu.

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s