Museum Multatuli dan Rangkasbitung (Catatan Perjalanan)

Alun-alun Rangkasbitung 1.jpg

Alun-alun Rangkasbitung

“Kelihatan sekarang (badan) lebih subur, kang”

Kalimat di atas adalah ucapan pembuka ketika saya bertemu seseorang. Bukan jenis ucapan yang baik. Ucapan yang sensitif. Salah-salah, bisa memicu “perang sipil”. Sang lawan bicara justru tidak terprovokasi.

“Iya”, balasnya ramah “sekarang mah lebih banyak duduk (lebih banyak di kantor-red).

Ia masih seperti dulu. Ia Kang Ubay. Nama lengkapnya Ubaidillah Muchtar, si pendiri Taman Baca Multatuli nun jauh di dalam perkampungan di Lebak, Banten. Taman baca yang fokus bacaannya adalah buku Max Havelaar karangan Multatuli alias Eduard Douwes Dekker yang terkenal itu.

Ubaidillah Muchtar.jpg

Ubaidillah Muchtar

Oh ya, saya pernah menulis aktivitas taman baca tersebut di tulisan berikut: Taman Baca Multatuli Ciseel dan Tamatnya Ronggeng Dukuh Paruk dalam Semalam

Kali ini saya tidak bersusah payah turun naik bukit untuk bertemu beliau di Taman Baca Multatuli. Saya bertemu beliau di “tempat barunya” yakni Museum Multatuli.

Museum Multatuli: Tentang Kegelisahan di Lebak, Banten

Kang Ubay pada awalnya adalah seorang guru bahasa Indonesia yang ditempatkan di SMPN Satu Atap 3 Sobang. Ketika ditugaskan di tempat ini, ia membawa kegelisahan. Ia merasai kegelisahan tentang “sesuatu” yang ada di Banten. Ia mengamini kegelisahan yang dulu dirasakan seorang Asisten Residen Belanda bernama Eduard Douwes Dekker.

Dengan caranya, ia mendirikan taman baca anak-anak di kampung kecil bernama Ciseel. Konsepnya sederhana: membacakan isi perlahan buku Max Havelaar kepada anak-anak. Anak-anak di Kampung Ciseel adalah anak-anak asli Banten. Max Havelaar pun menceritakan Banten. Garis singgung ini yang kemudian dibawa Kang Ubay di Ciseel.

Singkat kata, taman baca ini terkenal. Tidak terhitung diliput media besar ibukota, sebut saja Kick Andy atau pun Lentera Indonesia Net TV. Belum lagi media lain berbasis tulisan.

Masih dalam semangat merasai “kegelisahan” yang dulu dirasakan Multatuli, rasanya belum cukup dengan taman baca. Tuturnya, sejak 6 tahun lalu, ia mulai menggagas yang lebih besar: “menangkap” Multatuli dan aktivitasnya di Rangkasbitung, Lebak, Banten dalam bentuk museum.

Gayung bersambut. Gagasan ini disambut baik pihak terkait, dalam setahun terakhir, lahir Museum Multatuli di Rangkasbitung, Lebak. Bertempat di bekas kediaman Wedana Rangkasbitung, dibangunlah sebuah museum yang “menangkap” Multatuli.

Tebak siapa yang kemudian aktif merintis museum tersebut? Ya, Kang Ubay sendiri yang “turun tangan”. Aktivitasnya dari SMPN Satu Atap kini berpindah ke Dinas Pendidikan Lebak. Disandangnya amanah Kasi Cagar Budaya dan Museum. Tapi saya haqqul yakin, secara de facto, itu adalah legitimasinya “menangkap” Multatuli dalam bentuk museum.

Secara alamat, Museum Multatuli berada di komplek Alun-alun Rangkasbitung. Bersebelahan dengan Perpustakaan Daerah “Saidja Adinda”. Ketika saya berkunjung, memang belum bisa dinikmati karena museum dalam pemugaran berkecepatan penuh. Koleksi-koleksi mulai didatangkan guna menangkap dan menghidupkan Multatuli di Rangkasbitung.

Meski belum sepenuhnya bisa dinikmati, animo pengunjung tidak sedikit, terutama dari kalangan yang menaruh perhatian akan sejarah.

Jika nanti sepenuhnya jadi, museum terdiri dari 7 ruangan yang memiliki tema dan koleksi tertentu. Beberapa koleksi ada yang didatangkan dari Belanda.

Keliling Singkat Rangkasbitung

Kedatangan saya ke Rangkasbitung disambut hangat oleh Kang Ubay. Bahkan, saya diajaknya berkeliling Rangkasbitung setelah mampir ke museum.

Eksklusif! Kapan lagi bisa dipandu oleh seorang Kasi Cagar Budaya dan Museum dari kabupaten terbesar di provinsi Banten.

Pertama, saya diajak masuk ke Perpustakaan Daerah Saidja Adinda yang bersebelahan dengan museum. Bangunan tiga lantai ini berkonsep modern. Ruang koleksi buku sendiri ada di lantai 2. Penilaian saya, koleksi masih terbilang sangat sedikit. Semoga dalam waktu singkat, koleksinya lebih banyak dan lebih representatif memuat koleksi tentang daerah Lebak.

Perpustakaan Daerah Lebak.jpg

Perpustakaan Daerah Lebak

Berikutnya, saya diajak menuju rumah Multatuli. Dari Museum Multatuli, kami menyusuri lapangan alun-alun menuju arah RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Adjidarmo.

Ternyata rumah Multatuli ada di dalam kompleks rumah sakit.

Kondisinya memprihatinkan. Rumah ini bahkan pernah jadi tempat sampah rumah sakit! Saat ini pun masih ada saja beberapa rongsokan rumah sakit yang teronggok, sebut saja inkubator bayi, bangsal rusak, dan botol-botol obat.

Aksesnya pun tidak mudah lagi. Sebenarnya selain dari arah pintu masuk RS, juga ada jalan samping. Tapi jalan samping ini ternyata bersebelahan dengan tempat pembuangan sampah RS. Logo biohazard tercetak jelas. Bau pula. Ini tumpukan sampah medis. Berbahaya.

Jika kelak pelancong hendak ke rumah multatuli, mungkin akan terkesan seperti hendak menuju lokasi yang menyeramkan, macam situs ledakan nuklir Chernobyl.

Keluar dari area RS, kami melanjutkan ke situs sejarah lainnya. Kali ini yang kami lewati adalah sebuah rumah yang sangat khas bercorak Belanda. Rumah ini dahulunya adalah rumah dinas Bupati Cilegon, kini rumah ini “dijaga” oleh keturunannya.

Berikutnya, kami menuju sebuah Water Turn/Menara Air tua. Letaknya berada di areal Taman Makam Pahlawan. Bersebelahan dengan kantor Dinas Pariwisata Lebak.

Karena akses via makam dikunci, kami coba melongok via jalan belakang kantor Dinas Pariwisata.

“Loba reungit, wa!”

(banyak nyamuk, gan-red)

Walaupun banyak nyamuk, saya coba abadikan water turn ini. Sekilas water turn ini tidak hanya menara air tapi mirip menara pengawas.

Epilog

Tidak ada epilog. Sekian.wkwk

NB:

Cara menuju Rangkasbitung paling mudah adalah naik Commuter Line lintas Stasiun Tanah Abang – stasiun Rangkasbitung. Jadwalnya cukup banyak setiap harinya. Dari stasiun Rangkasbitung, bisa sambung ojek, becak, atau jalan kaki (supaya kurus) ke arah alun-alun. Jaraknya dekat, sekitar 1 km saja, setelahnya akan sampai. Selamat mencoba dan selamat bertemu Multatuli di Rangkasbitung.**

Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi; kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam sendiri – Max Havelaar, Multatuli

9 pemikiran pada “Museum Multatuli dan Rangkasbitung (Catatan Perjalanan)

  1. Cara paling mudah ya lewat Leuwiliang naik motor…naik mobil juga boleh…pulangnya lewat petir nyari jalan tol

  2. Ping balik: Jangan Sia-siakan Promo Tiket Pesawat Ke Bali untuk Mengunjungi Keunikan Wisata di Buleleng | ardiologi

  3. Rangkasbitung sering terdengar saat saya naik kereta jurusan tanah abang jaman kuliah dulu, tapi belum pernah kesana, semoga bisa mendengar kisah multatuli tersebut. Keren museumnya, lebih keren lagi kisah kang Ubay

  4. oh begini asal mula museum ini di bangun rupanya. dari awal bertanya tanya sih ini gemana ceritanya museum ini ada, soalnya tidak ada penjelasan di museum. luar biasa ya perjuanganya, dan sekarang bisa di nikmati manfaatnya buat tempat belajar masyarakat sekitar.

  5. Ping balik: Museum Multatuli: Kunjungan Kedua | ardiologi

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s