Jalan Jakarta: Tentang Orang Baik (yang Masih Ada)

Jakarta

Jakarta

Malam itu, pertengahan 2017, keapesan menjadi milik saya. Motor metik butut yang saya pacu dari rumah di kawasan Gunung Putri, Bogor menuju Ciputat, Tangerang Selatan tiba-tiba mati mesin. Setelah dicek, ternyata bensinnya habis. Penyebabnya adalah salah perhitungan. Saya mengira-ngira bensin akan cukup sampai tujuan. Ternyata matematika saya salah, motor kehabisan bensin.

Lokasi saya kehabisan bensin berada di Jalan TB Simatupang, persisnya sebelum fly-over Tanjung Barat. Jalan Jakarta malam itu semakin sepi. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 21.00 WIB. Mau tak mau, motor harus didorong sampai bisa kembali minum bensin entah di SPBU atau kios bensin eceran.

Saya putuskan tidak menanjak fly-over. Mendorong motor mogok di tanjakan adalah sebuah kesalahan yang manis. Ditambah lagi di ujung flyover sana juga tidak ada SPBU. Alhasil, saya memilih arah kiri menuju kawasan Tanjung Barat. Buka resleting jaket, taruh tas di dek motor, motor pun melaju payah sambil didorong.

Motor metik tersebut di atas kertas bobotnya “hanya” 99 kg. Entahlah, rasanya berat sekali motor tersebut. Ditambah jaket yang sukses menahan keringat. Semoga itu bukan pertanda ada hal yang sifatnya gaib.hehe

Tidak jauh setelah mendorong dan aroma kehidupan bensin mulai tercium, di spion terlihat motor mengurangi lajunya dan mendekati motor naas yang sedang saya dorong. Suara knalpotnya mengingatkan saya akan motor khas jambret, yakni Yamaha RX-King.

Suara motor tersebut makin mendekat. Sambil terus mendorong motor, saya tetap intip-intip akun sosmedmu spion.

Tidak butuh waktu lama, motor bersuara parau tersebut sudah berada di sebelah kanan saya.

Saya lantas menengok ke arah pengendaranya sambil meningkatkan kewaspadaan.

Tiba-tiba sang pengendara tersebut bertanya:

“Kenapa, mas?”

“Habis bensin, mas”, saya cepat menjawab.

“Mas, mau saya setut ga?”

OK, setut adalah kegiatan di mana sebuah motor mogok didorong dengan motor lain mengunakan kaki.

“Oh, ga usah, makasih, mas. Pom bensinnya deket sini.”, saya menolak halus sambil bernafas lega juga ngos-ngosan. Lega karena orang tersebut menawarkan pertolongan. Ngos-ngosan karena mendorong motor itu berat. Kamu ga akan kuat. Biar aku saja. #terDilan

Akhirnya, pengendara RX-King itu melaju lurus menanjak lewat fly-over Tanjung Barat dan saya melanjutkan mendorong motor hingga SPBU terdekat.

**

Malam itu tentu berkesan dan juga capek. Kalau boleh menyalahkan, tentu motor metik butut ini adalah motor yang sangat haus BBM dan berpredikat sahabat akrab Pertamina (akibat terlalu sering mampir isi bensin).

Hey, jahat rasanya menyalahkan yang lain. Kesalahan rasanya jelas ada di saya akibat kalkulasi bahan bakar yang kurang tepat. Maklum nilai matdas saya B. #sombong

Terlepas dari keapesan di atas, saya menemukan orang baik di jalan. Di jalan Jakarta. Walaupun kita sepakat bahwa Jakarta belum punya rasa aman yang kita idamkan. Jalan Jakarta memang kejam dan unik. Pihak Kedutaan AS melalui situs OSAC (Overseas Security Advisory Council saja sampai  menyatakan dalam laporannya: “…The driver of the larger vehicle will likely be held liable in an accident”.

Setidaknya, pengendara RX-King yang saya ceritakan di atas adalah satu dari sekian orang baik yang masih ada (dan saya yakin masih banyak) di Jakarta.

Sudahkah kamu, iya, kamu, yang lagi mengadu nasib di Jakarta, bertemu orang baik sejauh ini di Jakarta?

Kalau belum, ketemu yuk, saya orangnya baik kok. #eh

 

14 pemikiran pada “Jalan Jakarta: Tentang Orang Baik (yang Masih Ada)

  1. Duh, nasib motor kita sama kak, motor matik tua yang hobinya minta dikasih minum terus di spbu 😂

    Ahiya, kemarin pas ke Jakarta banyak ketemu orang-orang baik, di krl misalnya, tiap mau nanya jalan atau pemberhentian pasti selalu dikasih arahan yang jelas, duh salut deh sama orang-orang Jakarta 😊

  2. saya mah sampe ditantang sama temen; coba kamu hidup di jakarta, msh bisa bertahan jd orang baik enggak. 😀

    kali lain, temen saya ngasih kode plus narik2 tangan saya, pas saya dg cueknya nanya jalur angkot ke org di terminal :D. saiahnya mah nyante2 sok lugu, si temen yg tinggal di sana yg ribut sendiri, watir saya nya percaya2 aja:D

  3. Sama mas, saya juga pernah boncengin temen naik motor di daerah tanah Abang, udah hampir tengah malam karena terlalu asyik nongkrong. Temen saya lagi charge hape dengan power Bank, tidak sengaja kabelnya terlepas dan terlilit di jeruji gigi!!
    Kami panik dan berhenti di depan warung nasi uduk. Habis turun dan ngecek, beberapa orang dri warung itu langsung datang, tanya2 dan bantu kita potong kabel dri jerujinya tanpa ba-bi-bu.
    Setuju mas, masih banyak orang baik di Jakarta 😆😆

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s