Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Bromo

IMG_5502 res.jpg

trek menuju kawah Bromo

Luas. Epik. Dingin. Sepi.

Saya ingin memulai tulisan ini dengan empat kata di atas. Ya, kunjungan dadakan ke Gunung Bromo hari Jumat (23/03) setidaknya mengesankan empat hal tersebut. Kunjungan ini bermula dari suatu kegiatan kantor di Lumajang, Jawa Timur. Kabupaten Lumajang sendiri berada persis di sisi timur Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Tamasya Dadakan

Tamasya ini berawal dari keinginan menuju Malang dari Lumajang. Ada beberapa jalur sebenarnya menuju Malang dari Lumajang. Lewat utara (Probolinggo), selatan (Pronojiwo – Turen), dan tengah (Senduro – Ranu Pani).

Tim dari kantor akhirnya memutuskan menuju Malang melewati akses tengah yakni melalui Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang – Jawa Timur. Dari arah pusat kota Probolinggo, tim menyusuri jalan ke arah Senduro yang terus menanjak di punggungan gunung. Jalan tergolong mulus hingga akhirnya kami sampai di Desa Ranu Pani. Mobil yang kami tumpangi tidak menemui kesulitan berarti di jalan menanjak ini.

Desa Ranu Pani merupakan akses masuk pendakian Gunung Semeru. Desa yang berada di ketinggian sekitar 2200 mdpl ini relatif sepi saat itu karena pendakian Semeru masih ditutup. Hanya ada aktivitas warga lokal saja. Kami mampir sejenak mengisi perut di salah satu basecamp pendakian yang sepi.

Awalnya kami iseng bertanya ke petugas apakah bisa hiking santai ke Ranu Kumbolo. Jawabannya tentu saja bisa ditebak: tidak bisa. Akibat keisengan ini, akhirnya kami memutuskan untuk tamasya lucu-lucuan ke Bromo.

Jeep yang Kemahalan

Setelah memutuskan untuk mampir ke Bromo, kami lagi-lagi iseng bertanya tentang angkutan ke Bromo. Lazimnya, wisatawan menumpang mobil sejenis jip 4×4 berkapasitas hingga 7 orang. Kami menemui salah satu pemilik jip dan mendapati harga yang belum pas.

Padahal pasarannya segitu.

Tapi kami ingin hemat.

Kami berunding dan akhirnya kami menemukan tukang ojek bromo.

Ojek Motor Bromo

Dari Ranu Pani, kami melajukan mobil ke arah Tumpang, Malang. Jalan ini kembali menyusuri tebing dan melewati lokasi bernama Ngadas yang merupakan akses masuk ke area Gunung Bromo.

Di Ngadas, kami bertemu dengan dua pengojek. Tawar-menawar sengit terjadi. Rombongan kami berjumlah 4 orang. Tukang ojek 2 orang. Sempat 2 tukang ojek tadi menawarkan untuk bonceng tiga. Tentu saja kami keberatan. Sampai pada akhirnya disepakati bahwa kami menyewa motor tanpa tukang ojeknya dengan mahar Rp200.000 per motor.

Dari motor yang disewa lepas kunci, petualangan lucu-lucuan ke Bromo dimulai.

Bukit Teletubbies

IMG_5489-01.jpeg

Shalat di Bukit Teletubbies

Turun dari Ngadas, motor meluncur deras. Jalan relatif mulus dengan aspal. Hanya saja perlu waspada karena cukup sempit. Sebelah kiri jurang dan arah berlawanan kadang ada pengendara lain.

Destinasi pertama yang bisa kita temui dari jalur Ngadas adalah situs Watu Gede. Sesuai namanya, terdapat batu besar yang menjadi ikon kepercayaan lokal warga setempat. Kami tidak berhenti di sini, kami terus lanjut ke arah Bukit Teletubbies.

Jika ingat tayangan Teletubbies, mungkin Anda ingat tentang gundukan bukit-bukit. Di Bromo, seperti itulah rupanya. Pemandangan sangat epik. Kami seperti masuk ke dalam mangkuk dengan tepi mangkuk dari batuan alami. Saya teringat mata kuliah Geologi zaman kuliah dulu mengenai formasi batuannya.

Pasir Berbisik

IMG_20180323_172816-01.jpeg

ojek, neng.wqwq

Etape berikutnya adalah jalur melewati lautan pasir yang masyhur disebut Pasir Berbisik. Tempat ini mendapatkan julukannya dari judul film yang dibintangi mb Dian Sastro dan mbok Christine Hakim.

Di lokasi sendiri, plang besar tempat berfoto bertuliskan The Sea of Sand alias lautan pasir. Entah kenapa bukan Pasir Berbisik. Mungkin biar gak dikira promo abadi.

Lautan pasir ini memang luas. Sangat puas rasanya pakai motor di sini. Kontur pasirnya datar dan padat jadi aman untuk ban motor. Memang di beberapa titik ada pasir yang masih lunak tapi itu hanya di area tertentu saja.

Etape Ngadas – Bukit Teletubbies – Lautan Pasir membuat kawah bromo dan Gunung Batok berada di sisi kiri. Megah sekali.

Sajian Utama: Nanjak Kawah Bromo

IMG_5518 res.jpg

tangga menuju kawah Bromo

Dari gelanggang lautan pasir, kami membelokkan motor ke arah kaki kawah Bromo ke arah Pura Luhur Poten. Di sini banyak warung dan tersedia area parkir. Karena saat itu hari biasa, warung tidak ada yang buka.

Sepi. kayak hati abang, dek

Dari parkiran menuju puncak kawah, bisa ditempuh dengan dua cara. Jalan kaki atau naik kuda. Naik kuda bertarif Rp50.000. Berhubung kami sedang mengirit pengeluaran, kami memilih jalan kaki.

Ternyata ada bonus tersendiri jika berjalan kaki.

Trek beraroma kotoran kuda!

Sungguh sangat hakiki, dalam kondisi nafas yang kedodoran mendaki trek menanjak, kami juga harus berjibaku dengan aroma tersebut. Tapi tidak masalah, ini hanya masalah kebiasaan saja. Toh kalau sudah terbiasa, akan paham kan. Iya, kan, dek? #eh

Trek menanjak menuju bibir kawah “ditutup” dengan mendaki sekitar 250 anak tangga.

Setelah terengah-engah sambil menyusun napas, akhirnya kami sampai di puncak kawa Bromo.

Beruntung saat itu cuaca cerah dan aktivitas vulkanik Bromo sedang normal sehingga kawah aman untuk diintip. Benar saja, hanya kepulan asap belerang yang sesekali menyembul. Air kawah yang kehijauan nampak tenang.

Dari kawah Bromo, Gunung Batok berdiri gagah mendampingi. uhuk mendampingi.

Kami menghabiskan beberapa belas menit di atas. Aroma belerang membuat berlama- lama di atas menjadi kurang menyenangkan. Bahkan aroma belerang sampai “larut” di mulut. Alhasil air minum yang kami minum terasa kurang sedap. Rasa yang terpendam belerang.

Tidak terasa, matahari semakin condong ke barat. Hari semakin gelap. Kawah semakin sepi. Di kejauhan, motor pengisi area parkir hanya motor kami. Kami memutuskan turun sebelum hari gelap dan sikap kamu suhu semakin dingin.

Epilog: Ada Cinta di Ketinggian

IMG_5530 res.jpg

kawah Bromo

Akhirnya saya bisa menelurkan kembali tulisan bertajuk “Ada Cinta di Ketinggian”. Tajuk tulisan yang memang saya khususkan untuk kamu kegiatan tamasya pendakian di tempat yang agak tinggi. Setelah vakum hampir satu tahun, rasanya umur tidak pernah bohong. Stamina lebih cepat terkuras. Napas semakin ngos-ngosan.

Perjalanan ke Bromo yang megah, dingin, dan sepi, setidaknya memberikan makna sebagaimana perjalanan-perjalanan sebelumnya. Memang bukan sejenis pendakian berat yang sampai hari gendong tas gunung berat berisi logistik dan trekking dari bawah sampai puncak. Setidaknya perjalanan ini bisa menyegarkan pikiran dari ruwetnya urusan kantor dan urusan tentang kamu #eh.

Memang, selalu ada cinta di ketinggian.

Aku bukanlah pendaki gunung atau lah pecinta alam, aku hanya seseorang yang ingin bersujud dari tempat yang sedikit lebih tinggi dari orang kebanyakan.

**

Iklan

10 pemikiran pada “Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Bromo

  1. Saya jadi berpikir untuk naik motor ke Bromo dari Malang. Seru kali, ya. Masih ada beberapa urusan yang belum saya selesaikan di sana. Belum pernah juga main ke Pasir Berbisik dan Penanjakan. Mohon doanya Mas, semoga saya bisa kembali ke sana dalam waktu dekat, hihi. Berarti di sana beda banget ya antara hari kerja dan hari libur, sebab sepinya sampai warung jarang banget yang buka dan di sore hari tinggal motor kalian yang terparkir di sana, hehe.

  2. Jenis motornya apa saja mas? Apa bagus matic ato manual yah? Dan kapan enaknya naik montoran kesana? Pagi, siang apa sore? Maaf banyak tanya…belum pernah soalnya.

    • motor yg kami sewa honda gl-pro dan supra x 110 jadul

      saya sarankan manual, mas, tujuannya supaya lebih aman di turunan aja sih

      mengenai waktu, lebih enak pagi jelang siang atau siang jelang sore

      kalo malam khawatir belum kenal medan

  3. Ping balik: Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Lawu | ardiologi

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s