Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Lawu

Puncak Hargo Dumilah Lawu

Suhu Puncak Hargo Dumilah, Gunung Lawu, mencapai 11 derajat Celcius ketika pagi hari

Kangen itu dimensinya luas. Ada yang kangen ke seseorang. Ada yang kangen akan sesuatu. Di pendakian Lawu ini, saya berhasil menuntaskan kangen. Kangen untuk menulis bertema “ketinggian” setelah sebelumnya hanya “berhasil” menulis tentang Bromo yang tidak bisa dihitung sebagai pendakian beneran.

Pendakian Lawu ini merupakan inisiasi dari beberapa kawan alumni pendakian Merbabu tahun 2016. Setelah mengendapkan wacana selama kurang lebih sebulan, tim beranggotakan 8 orang akhirnya berangkat mendaki Gunung Lawu via Cemoro Sewu, Magetan, Jawa Timur, Jumat-Ahad (20-22 April 2018).

Sekilas Gunung Lawu

Gunung Lawu adalah gunung yang berada di perbatasan Karanganyar, Jawa Tengah dan Magetan, Jawa Timur. Puncak tertingginya yang bernama Hargo Dumilah memiliki ketinggian 3265 mdpl. Gunung Lawu tergolong gunung yang “tertidur”. Beberapa literatur menyebutkan erupsi terakhirnya terjadi tahun 1885.

Untuk pendakian ke Gunung Lawu, ada dua jalur yang lazim digunakan. Pertama adalah jalur Cemoro Sewu, Magetan. Kedua adalah jalur Cemoro Kandang, Karanganyar. Selain itu, ada beberapa jalur alternatif seperti jalur Candi Cetho, jalur Jogorogo, dan jalur Tahura.

Untuk pendakian kali ini, saya dan tim memilih jalur populer yakni jalur Cemoro Sewu.

Mulai Perjalanan

Perjalanan ini pun sebenarnya dimulai dengan drama tertinggalnya satu anggota tim karena gagal mencapai Stasiun Pasar Senen tepat waktu. Alhasil kami pun berangkat bertujuh dan yang tertinggal, sebut saja H, menyusul dengan menaiki bus AKAP yang durasi keberangkatannya lebih panjang dari kereta.

Kami bertujuh berangkat dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta, pada Jumat (20/4) dengan menaiki kereta api Brantas pada pukul 17.00 WIB. Kami turun di Stasiun Solojebres pada Sabtu (21/4) pada pukul 02.47 WIB. Perjalanan dengan kereta kelas ekonomi memang ngeri-ngeri sedap. Selain punggung sakit, tentu kaki pun kurang nyaman. Setelah sampai di Solojebres, kami memutuskan istirahat sebentar sebelum naik mobil jemputan kami ke Lawu dan menunggu H yang masih di bus.

Kami bergerak sebentar mencari masjid karena sebentar lagi salat Subuh. Kami menemukan masjid di sekitar Jalan Ahmad Yani, Solo. Selesai salat, kami leyeh-leyeh menunggu kabar dari H yang ternyata pagi itu baru sampai di Kendal, Jawa Tengah.

Makjleb, suwi tenan.

Akhirnya H kami tinggal dan kami jalan duluan ke basecamp Cemoro Sewu. H memutuskan naik mobil jemputan berikutnya. Dari Kota Solo ke basecamp memakan waktu tempuh sekitar 2 jam.

Basecamp Cemoro Sewu

Cemoro Sewu (dan Cemoro Kandang) ternyata masih satu kawasan dengan kawasan wisata “ketinggian” Tawangmangu. Suasananya mirip jalur puncak Bogor-Cianjur. Bedanya, tidak ada one-way dan kemacetan yang gimana-gimana.

Di basecamp, kami registrasi dengan biaya Rp15.000 per kepala. Kami juga berkemas ulang barang bawaan sambil  menunggu H yang belum datang. Waktu luang yang tersedia kami maksimalkan untuk sarapan. dan kepoin gebetan.

Sekitar pukul 11.00 WIB,  H datang dan tidak lama kami bergegas memulai pendakian. Joss.

Basecamp Cemoro Sewu – Pos 1

Tanpa basa-basi, trek terus menanjak. Trek sepanjang perjalanan adalah batu-batu yang sudah tersusun membentuk jalur. Langsung terasa capeque, bosque!

Sesuai namanya, Cemoro Sewu (cemara seribu), sepanjang jalur ini banyak sekali pohon cemara. Trek masih lumayan adem karena terlindung kanopi pohon cemara. Durasi dari basecamp ke pos 1 butuh waktu sekitar 60 menit.

Pos 1 – Pos 2

Di pos 1 terdapat warung dan warungnya menjual pelbagai gorengan dan minuman. Kami istirahat sebentar di sini untuk melepas dahaga. Oh ya, selain warung, ada juga shelter untuk berteduh.

Dari pos 1, kami lanjut menuju pos 2. Trek semakin tidak basa-basi lagi. Tanjakan berupa susunan tangga batu alam ini menyiksa sekujur kaki terutama lutut. Trek sudah mulai sedikit terbuka dan pemandangan di sisi kanan dan kiri terlihat batu-batu gunung nan besar.

Sampai di pos 2, lagi-lagi ada warung. Kami tidak jajan tapi kami memutuskan membuka bekal nasi yang kami bawa. Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Kami makan dengan lahap.

Waktu untuk menuju pos 1 ke pos 2 sekitar 60-90 menit (tergantung dhengkul)

Pos 2 – Pos 3

Mulai dari sini, pos 2 ke pos 3 dan seterusnya, trek semakin menanjak hebat dengan susunan batu yang makin bikin dengkul lekas aus. Di pos 3 ada shelter tapi tidak ada warung. Di sini kami putuskan untuk shalat jama’ Dzuhur-Ashar.

Durasi tempuh pos 2 ke pos 3 sekitar 90 – 120 menit (lagi-lagi tergantung dengkul).

Pos 3 – Pos 4

Trek semakin menanjak hebat dengan susunan batu-batu alam. Mulai di trek ini, terdapat pagar pembatas yang juga bisa kita jadikan tumpuan hati tangan. Kita akan menemukan pos 4 dengan posisi yang berada di lereng gunung. Di sini ada beberapa lapak sempit untuk mendirikan tenda tapi kurang direkomendasikan karena dekat sekali dengan jurang.

Dari pos 3 ke pos 4 durasi tempuh sekitar 60-90 menit.

Pos 4 – Pos 5

Dari pos 4 ke pos 5 masih menanjak (yaiyalah). Hari sudah gelap, senter kepala sudah terpasang. Kami memutuskan untuk singgah saja di pos 5 karena hati badan sudah capek.

Di pos 5 terdapat lapak yang cukup luas dan juga 2 buah warung dengan shelter yang cukup menampung belasan pendaki. Kami singgah di salah satu warung dan beruntung shelternya belum penuh sehingga kami memutuskan menginap di warung tersebut. Tenda yang kami bawa tidak terpakai.

Kami juga tidak masak malam itu karena mengandalkan masakan warung. Malas memang, hehe. Setidaknya kami bisa beristirahat lebih cepat. Pukul 21.00 WIB kami sudah pulas.

Pukul 00.44 WIB saya terbangun karena tiba-tiba jari manis dan jari kelingking saya kaku akibat dingin padahal atribut tidur sudah sangat lengkap. Tercatat baju, kemeja, jaket, sleeping bag, sarung tangan, kupluk, kaus kaki, dan buff sudah melekat di badan.

Kenapa harus jari manis dan kelingking?

Apa pertanda mau ngasih cincin ke orang gitu? #eh #ups #wkwk

Suasana shelter gelap karena lampu yang bersumber dari genset sudah dipadamkan. Suasana gelap. Sepintas shelter sudah penuh dengan pendaki. Sepertinya ada yang datang setelah kami tidur. Saya mengkondisikan tangan supaya hangat dan kembali masuk sleeping bag.

Pukul 03.40 WIB saya terbangun karena ingin pipis dan akhirnya keluar tenda untuk menuntaskan panggilan alam tersebut.

Dingin bat, gaes!

Saya tengok di kejauhan lampu kota sekitar Magetan menyala indah tapi kok agak blur, ya? gumam saya dalam hati.

Oh ternyata saya lupa pakai kacamata.wkwk

Saya kembali ke shelter dan kembali tidur.

Pukul 05.00 WIB bangun kembali dan membangunkan yang lain untuk salat subuh dan persiapan summit attack. Tapi dasar berjiwa malas, kami summit attack sekitar pukul 06.30 WIB.

Pos 5 – Sendang Derajat

Pagi itu, dengan kabut tebal dan angin pagi yang dingin, kami bergerak dai pos 5 ke Sendang Derajat. Di Sendang Derajat, banyak sekali yang membuka tenda dan lagi-lagi di sini kita bisa menemukan warung yang lengkap dengan shelter. Kami tidak beristrahat di sini.

Durasi dari pos 5 – Sendang Derajat sekitar 30 menit.

Sendang Derajat – Puncak Hargo Dumilah

Mulai dari Sendang Derajat, perjalanan mulai sedikit zigzag membelah edelweiss dan tanaman gunung lainnya. Cuaca pagi itu masih berkabut dan angin masih belum berhenti.

Setelah 30 menit menanjak akhirnya puncak!

Hargo Dumilah!

3265 mdpl!

Puncak sudah cukup ramai oleh pendaki lain yang lebih dulu sampai. Awan masih tebal sehingga pemandangan ke sekitar Magetan dan Karanganyar masih terhalang. Kami dengan sabar mengantre untuk berpose di tugu puncak Hargo Dumilah yang bangunannya disponsori oleh salah satu produsen buku tulis nasional. Setidaknya itu terlihat dari logo besar di salah satu sisi tugu.

Setelah puas jeprat-jepret di puncak, kami turun dengan hati gembira menuju pos 5 untuk sarapan dan berkemas untuk persiapan pulang.

IMG-20180422-WA0015.jpg

tim 8 Lawu

Epilog: Persiapan Tetap Jadi Koentji!

Baiklah, saya akan nyatakan Gunung Lawu via Cemoro Sewu adalah gunung dengan banyak warung. Tidak perlu khawatir kehabisan logistik. Tapi jangan terlalu mengandalkan dan mengendurkan persiapan, kita tidak pernah tahu kapan warung/shelter penuh untuk disinggahi, terutama jika mendaki di akhir pekan.

Selain itu, gunung Lawu via Cemoro Sewu punya trek batu yang nonstop. Ini sangat berat bagi kaki dan lutut yang kurang persiapan. Saya contohnya. Persiapan pendakian yang hanya jogging ringan terasa masih sangat kurang. Buktinya kaki terasa sangat berat terutama ketika perjalanan turun.

Jadi, persiapan tetap jadi koentji.

Kamu juga koentji #eh

Iklan

2 pemikiran pada “Ada Cinta di Ketinggian: Edisi Lawu

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s