Museum Multatuli: Kunjungan Kedua

Museum Multatuli (11)

Patung Perunggu Multatuli

Rangkasbitung, Lebak, Banten, bukanlah destinasi favorit untuk wisata selain wisata sejarah. Tidak ada pusat perbelanjaan hits atau wisata kekinian di sini. Hanya ada jejak sejarah. Sejarah panjang sebelum-selama-sesudah kolonialisme Kerajaan Belanda. Rangkasbitung ataupun Lebak sendiri memiliki satu nama yang cukup penting dalam catatan sejarahnya, yakni Multatuli alias Douwes Dekker.

Saya pernah menuliskan catatan perjalanan Museum Multatuli dan sedikit napak tilas sejarah Rangkasbitung di sini. Tapi sayang saat itu museum secara resmi buka jadi. Hari Sabtu (4/8) lalu mengunjungi kembali Museum Multatuli Lebak untuk melihat secara utuh ada apa saja di dalamnya.

Berikut ceritanya~

Commuter Line

Saya berangkat ke Rangkasbitung menggunakan kereta Commuter Line rangkaian Tanah Abang – Rangkasitung. Sungguh menyenangkan naik Commuter Line ketimbang beberapa tahun lalu yang hanya bisa menggunakan KA Lokal yang serba kumuh. Elektrifikasi rel yang sudah sampai Stasiun Rangkasbitung membuat mobilitas dari dan menuju Rangkasbitung menjadi lebih mudah (dan murah).

Saya memulai perjalanan dari Stasiun Pondok Ranji, Ciputat. Kereta cukup lengang hanya saja tempat duduk sudah penuh. Alhasil 2 jam berdiri sampai Rangkasbitung. Dengan tarif Rp7000, sampailah saya di Stasiun Rangkasbitung yang lanskapnya masih dipertahankan dengan desain klasik. Setidaknya dari foto-foto lawas yang pernah saya lihat.

Keluar dari stasiun, cuaca panas menyambut. Jam menunjuk angka 10.50 WIB. Bukan jam yang menyenangkan di Rangkasbitung. Cuaca panas dan kering. Tidak lupa sebotol air minum saya persiapkan. Saya keluar stasiun, belok kiri menyusuri pasar Rangkasbitung dan langsung berhadapan dengan belasan atau mungkin puluhan tukang ojek.

“Moal, mang!” (ngga ah, mz-red)

Tolak saya kepada tukang ojek yang menawarkan jasanya. Saya memilih jalan kaki karena dari stasiun menuju Rangkasbitung tidak begitu jauh. Google Maps (hanya) menunjuk angka 1,5 km.

Selepas menyusuri sisi pasar, saya belok kiri menyeberangi rel dan menyusuri jalan lurus nan panas. Kali ini angkot menawarkan jasanya. Lagi-lagi saya tolak. Saya konsisten loh orangnya. #eh

Alun-Alun Rangkasbitung

Sampailah saya ke Museum Multatuli Rangkasbitung, posisinya ada di sisi timur alun-alun. Posisinya ada sebelah Perpustakaan Saidjah- Adinda Lebak. Di depan museum terdapat tulisan besar Museum Multatuli.

Museum Multatuli (17)

Museum Multatuli tampak depan

Bangunan yang dulunya bekas kantor Wedana Rangkasbitung ini memiliki pendopo di depan. Suasana tidak begitu ramai, hanya ada lalu lalang anak sekolah saja. Sebuah pemandangan yang baik tentu saja.

Saya lalu mengarah ke pintu masuk museum. Tak lupa mencatat nama (dan menyampaikan maksud-tujuan bertamu #eh. Kabar baiknya, museum Multatuli ini tidak memungut retribusi masuk.

Ada apa di dalam museum?

Ketika masuk kita disuguhi maket museum dan di atas dinding terpasang kutipan Multatuli. Museum lumayan sejuk karena dilengkapi pendingin ruangan. Dari ruang “tamu”, saya mengarah ke kiri. Di ruang ini ada diorama kapal Batavia. Di ruangan ini, museum “mengantarkan” kita menyelam ke akar mula kolonialisme di tanah air yakni penjelahan timur jauh dan pencarian rempah-rempah. Ada spesimen rempah-rempah yang dipajang di ruangan ini. Ada cengkeh, kayu manis, dan lada. Semuanya asli, setidaknya setelah saya endus.

Lalu ada display interaktif dengan proyektor yang memutar animasi tentang kapal dagang VOC di nusantara.

Berlanjut ke ruangan berikutnya ada koleksi topi dan ikat kepala khas orang Baduy. Lalu ada kopi di ruangan ini.

Tentu saja tidak bisa diminum karena masih berbentuk biji dan bubuk. Ada pajangan gerabah tanah liat yang digunakan untuk menyeduh daun kopi. Masyarakat lokal saat era tanam paksa kopi sangat terbatas untuk meminum kopi, alhasil mereka hanya menyeduh daun kopi saja.

Lalu, ada apa dengan kopi? Ini ada hubungannya dengan Multatuli itu sendiri.

Multatuli alias Douwes Dekker adalah seorang Belanda yang pernah menjadi asisten residen di Lebak, Banten. Pada masa itu, unsur pemerintahan pemerintah kolonial memiliki dua kaki di bawah Gubernur Jenderal. Gubernur Jenderal adalah pimpinan tertinggi daerah jajahan. Di kaki pertama, terdiri dari orang pribumi, berturut-turut ada Bupati, Patih, Wedana, dan Asisten Wedana. Di kaki satunya, terdiri dari orang Belanda, ada Residen, Asisten Residen, Kontrolir, dan Asisten Kontrolir.

Dalam penugasannya, Multatuli menemukan ketidakadilan yang dilakukan pemerintah Kolonial. Ia kemudian menulis buku terkenal Max Havelaar: Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda.

Kopi sendiri pada masa kolonial adalah simbol ketertindasan karena ditanam dengan metode tanam paksa.

Di ruang berikutnya, ada ruangan “perlawanan”. Di sini dijelaskan beberapa fragmen pemberontakan yang terjadi di Lebak. Ada pemberontakan fisik dan juga ada pemberontakan ideologi. Ada fragmen Indische Partij/3 Serangkai yang terdiri dari Ki Hadjar Dewantara, Tjipto Mangoenkoesoemo, dan Ernest Douwes Dekker.

Oh ya, sebagai pengingat. Ernest Douwes Dekker dan Eduard Douwes Dekker adalah dua tokoh yang berbeda. Beda “peran” dan juga beda zaman. Yang menjadi anggota 3 serangkai adalah Ernest, bukan Eduard.

Di luar museum

Keluar dari museum, ada sajian patung perunggu Multatuli, Saijah, dan Adinda. Saijah dan Adinda adalah kisah sepasang insan manusia menjadi bagian dari buku Max Havelaar.

Epilog: Ngapain ke museum?

Mungkin ini pertanyaan klise dan akan dijawab dengan klise pula. Tapi bagi saya museum adalah salah satu tempat mengolah jiwa. Selain itu, tentu saja menguji ingatan sejauh mana kita tahu sejarah. Mungkin kita tidak tahu sejarah yang benar seperti apa karena konon sejarah ditulis oleh pemenang. Tapi setidaknya kita tahu banyak versi tentang sejarah.

Tentang Museum Multatuli Rangkasbitung, museum ini bisa jadi suplemen pelengkap bacaan anda tentang sejarah kolonialisme di Banten. Sekali berkunjung ke museum ini memang tidak langsung membuat kita langsung hafal kepingan sejarah kolonialisme Banten. Setidaknya ia menjadi pelengkap puzzle sejarah Indonesia yang sangat banyak.

Sejarah itu seperti kamu. Perlu dipahami. #eh

5 pemikiran pada “Museum Multatuli: Kunjungan Kedua

  1. Bukan menjadi destinasi favorit karna kurangnya pengelolaan sama tersebar nya informasi sih mas, saya orang lebak sedikit tahu kalo banyak banget tempat yang sangat amat bagus selain ke museum tentu nya hehe

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s