[Review] Venom (2018)

sony-venom-2018

Venom (2018) | sumber: Sony Pictures

Venom adalah film terbitan 2018 yang disutradarai oleh Ruben Fleischer. Film adaptasi dari komik keluarga besar Marvel ini bercerita tentang seputar perkenalan Eddie Brock (diperankan Tom Hardy) dengan Venom, sejenis alien yang dinamakan Symbiote. Symbiote adalah parasit yang membutuhkan inang untuk bisa aktif. Di sini, Eddie Brock adalah inang dari Venom.

Peringatan: Spoiler Alert.

Cepat, beri air!

Adegan pembuka disuguhi adegan pesawat ulang alik milik LIFE Foundation yang akan kembali ke bumi. Tiba-tiba ada malfungsi di pesawat dan pesawat jatuh. Dari sekian banyak tempat di bumi, film ini memilih pesawat itu jatuh di timur Malaysia.

Pesawat mengangkut beberapa tabung symbiote dan ternyata ada satu yang rusak. Symbiote ini kemudian hinggap di beberapa orang, mulai dari astronot, paramedis, hingga nenek-nenek.

Di bagian ini, penonton diajak menduga-duga apakah symbiote yang merasuki orang-orang tadi apakah Venom atau bukan.

Tapi bagi saya, yang menarik adalah ketika kerumunan medis menemukan salah satu astronot yang hidup (akibat dihinggapi symbiote) dan berteriak, “cepat beri air!”

Eddie Brock: si reporter nelangsa

Adegan kemudian berpindah ke reporter TV yang bisa dibilang cukup nekat, sampai akhirnya kenekatannya membuat dia kehilangan pekerjaan dan kekasih. Eddie lantas mendapat kesempatan untuk “menebus” kenekatan dengan melakukan investigasi langsung ke markas LIFE Foundation berkat bantuan “orang dalam”. Naas, kenekatan itu membuat ia bertemu Venom, symbiote yang kemudian jadi partnernya.

Tom Hardy yang berperan sebagai Eddie Brock bisa dibilang adalah penyelamat ke-medioker-an film ini. Aktingnya memang jempolan. Bisa memerankan Eddie Brock dalam kondisi stress, bingung, dan sebagainya.

Cerita

Sebagaimana formula khas film pada umumnya, film ini juga punya tokoh antagonis. Di sini yang menjadi antagonis adalah Riot, symbiote yang hinggap di tubuh bos LIFE Foundation. Venom yang awalnya sepakat dengan ide jahat Riot untuk menginvasi bumi dengan mendatangkan lebih banyak kaumnya, kini berbalik arah dan melawan Riot.

Apa yang membuat Venom berbalik arah dan melawan Riot? Jawabannya adalah Eddie Brock. Pertemuan Eddie dan Venom di sini memang diceritakan dengan durasi yang panjang. Saking panjangnya, melebihi porsi cerita saat melawan Riot.

Penutup: Venom ibarat makanan pembuka

Film ini adalah film yang tergolong kentang alias kena tanggung. Ibarat makan di restoran, sekujur film adalah makanan pembuka. Alih-alih menonton porsi aksi Venom dan Eddie, kita lebih banyak menyaksikan kisah “cinta” mereka berdua. Malah film ini lebih terasa unsur romansanya. Romansa manusia dan alien pastinya.

Selain itu, film ini arahnya masih terbilang abu-abu. Mau jadi antihero semacam Deadpool tapi ratingnya PG-13 alias masih bisa ditonton mulai usia 13 tahun. Mau jadi superhero tapi karena film ini tidak masuk Marvel Cinematic Universe dan sepertinya juga tidak masuk Spiderman-Universe jadi terasa ada yang kurang.

Hal yang bisa dibilang terbaik dari film ini adalah lawakan-lawakannya. Walaupun tidak banyak tapi setidaknya cukup membekas.

Satu pemikiran pada “[Review] Venom (2018)

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s