[Review] Konspirasi Alam Semesta – Fiersa Besari

Fiersa Besari - Konspirasi Alam Semesta.jpg

Konspirasi Alam Semesta – Fiersa Besari

Buku Konspirasi Alam Semesta adalah album-buku (albuk) yang ditulis oleh Fiersa Besari. Disebut albuk karena selain ada konten teks dalam bentuk buku setebal 230-an halaman, juga ada sekeping CD musik berisikan 16 lagu. Lagu dan bab dalam buku ini adalah satu kesatuan karena memiliki judul yang sama. Lagu yang bisa didengarkan sambil membaca bukunya. Kata penulisnya sih demikian.

Cerita utama dalam buku ini mengorbit pada dua tokoh utama: Juang Astrajingga dan Ana Tidae. Isinya seputar jatuh cinta, patah hati, hujan, dan senja. Ya, roman fiksi ini sangat “kekinian” dengan mengangkat hal seputar 4 hal di atas.

Tokoh Juang Astrajingga bisa dibilang mirip Fahri dalam Ayat-Ayat Cinta: kelewat sempurna sehingga terkesan too good to be true. Ia disebutkan sebagai pendaki gunung, penulis puisi, pencinta fotografi, pembaca buku, jurnalis dengan ketertarikan sejarah, pakai motor tua untuk jemput pacarnya, nongkrong di warung kopi, bertukar kabar dengan diksi-diksi romantis, dan penikmat senja. Selain itu, juga ia diceritakan punya konflik dengan orang tuanya. Kabur dari rumah akibat bertengkar prinsip dengan ayahnya. Lalu, ibunya adalah magnet yang tidak bisa begitu saja ia lepas.

Terdengar klise, kan?

Tapi bagi kalangan anak muda yang berjiwa indie yang punya riwayat patah hati, persona Juang mungkin adalah mereka. Tinggal tambah kemeja flanel saja.hehe.

Pun tokoh perempuan: Ana Tidae. Diceritakan sebagai perempuan berjiwa indie. Ngampus pakai Vespa, baca buku-buku rada ngiri, punya riwayat patah hati, dll.

**

Bagi saya, setengah bagian pertama adalah cobaan terbesar dalam membaca buku ini. Kata-kata seperti: hujan, senja, lembayung, dan sejenisnya kerap diulang-ulang. Tidak lebih mencitrakan seorang anak muda Bandung berjiwa indie yang suka nyeruput kopi sambil mengejar mimpi lalu jatuh cinta pada seorang gadis yang ditubruknya di toko buku bekas (dan bajakan) Palasari, Bandung.

Ngantuk dan monoton.

Baru di bagian tengah, cerita sudah mulai sedikit berbobot. Bahasan sudah seputar cinta dalam domain yang lebih luas. Kesan monoton mulai memudar. Tensi cerita mulai terbangun sampai akhir.

Walaupun bagian syair puitisnya kadang saya lompati untuk dibaca. Diksi-diksi romantis semacam itu—menurut saya—seperti gula. Kalau terlalu banyak berujung bikin enek.

Epilog

Hal unik—dan nilai plus—yang ada di buku ini adalah pemilihan nama tokohnya yang unik. Misal Ana Tidae. Awalnya saya mengira itu adalah nama marga dari Indonesia timur. Ternyata, itu adalah nama keluarga hewan sebangsa bebek dan angsa yakni Anatidae. Setidaknya ada sedikit rasa humor di pemilihan nama ini.

Buku ini memang tidak 100% sesuai dengan selera dan ekspektasi saya. Buku ini cocok untuk Anda yang haus akan citarasa indie dalam sebuah novel: kopi, buku, senja, patah hati, dll.

Hey, tapi setidaknya ketidakcocokan ini bisa kita bicarakan baik-baik, kan? #eh

**
NB: Untuk lagu-lagunya saya belum dengar secara seksama. Hanya saja tatkala mendengar beberapa lagu, perasaan saya vokal Fiersa Besari dan petikan gitarnya seperti kurang harmoni. Suka balap-balapan. Entahlah, saya bukan anak musik, apalagi musik indie.heuheu

6 pemikiran pada “[Review] Konspirasi Alam Semesta – Fiersa Besari

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s