[Review] Aquaman (2018)

Aquaman

Menonton film DC Extended tidak pernah semenyenangkan ini. Bisa dibilang sejak mencoba bersaing dengan Marvel Universe, DC seperti megap-megap. Pernah sangat bagus di trilogi The Dark Knight besutan Christoper Nolan. Tidak sedikit juga yang amburadul di judul-judul lainnya. Nah, Aquaman yang digarap James Wan ini menghadirkan angin segar bagi DC Extended Universe.

Aquaman menjadi film yang menceritakan tentang apa, siapa, dan bagaimana Arthur Curry (diperankan Jason Momoa) menjadi pelindung laut. Arthur adalah seorang keturunan campuran dari bapaknya yang seorang penjaga mercusuar dan ibunya yang seorang ratu kerajaan Atlantis bernama Queen Atlanna (Nicole Kidman). Tidak lupa diberikan juga tokoh villain sebagaimana resep umum film superhero. Sayangnya penggambaran villain inilah yang menjadi “kekurangan” tersendiri di film ini.

Plot

Film Aquaman mempunyai nuansa cerita yang tidak se-dark dan gloomy film-film DC lainnya. Masih ada selipan humor yang pas. Perkenaan tokoh juga cukup efektif, tidak bertele-tele. Jahitan cerita eksekusinya cukup rapih. Pokoknya pas lah. Yang cukup kurang adalah eksplorasi tokoh King Nereus (diperankan Dolph Lundgreen) dan villain Black Manta (diperankan oleh Yahya Abdul-Mateen II).

Black Manta awalnya merupakan perompak yang menyimpan dendam ke Arthur karena membiarkan ayahnya terbunuh di sebuah aksi perompakan. Dendam ini kemudian membuatnya melakukan apapun termasuk bersekutu dengan bangsa Atlantis untuk mendapatkan teknologi baju perang canggih yang bisa melukai Arthur.

Dan di film ini, kostum Black Manta amat sangat keren. Walaupun sepintas kepalanya seperti kepala lalat.wkwk

Sayangnya, konflik Black Manta dan Arthur tenggelam di antara konflik Arthur dengan bangsa Atlantis. Sepertinya di sekuel Aquaman 2 nanti, Black Manta akan mendapat porsi lebih. Ini terlihat dari bocoran post-credit scene di akhir film.

Sinematografi

Selain cerita yang cukup rapi, yang menjadi nilai lebih adalah sinematografi baik koreografi aktor maupun CGI. Di adegan kelahi misalnya, penggunaan medium dan close-up shot memberikan ketegangan sendiri.

Di sisi CGI, film Aquaman menghadirkan nuansa film Avatar garapan James Cameron. Dunia bawah laut Atlantis amat sangat berwarna dan memanjakan mata. Bikin betah pokoknya.

Selain itu, adegan terbaik di sisi CGI menurut saya adalah ketika Arthur dan Mera (Amber Heard) terjun dari kapal dan menyelam dengan dikelilingi makhluk dari kerajaan Trench. Makhluk seram mirip penghuni Rock Bottom di animasi Spongebob ini menambah unsur tegang tersendiri.

Untuk adegan lainnya adalah ketika kejar-kejaran di atap rumah di Sisilia, Italia. Shotnya keren. Perpindahan kameranya ciamik. Mantap djiwa.

Epilog

Ini adalah film DC yang layak tonton. Segar ketimbang film DC yang Marthaaaaa itu lho.wkwk. Dan saya pribadi, yang cukup yakin merekomendasikan film Aquaman adalah adanya lagu Saeglopur dari Sigur Ros yang dipakai sebagai lagu pengiring di salah satu adegan.

Juga di film ini ada otokritik tentang sampah dan lautan yang justru dijadikan bagian dari cerita. Cukup nyentil, sih.

Semoga ini menjadi angin segar bagi film-film DC yang akan datang.

6 pemikiran pada “[Review] Aquaman (2018)

  1. banyak yang bilang mirip Avatar versi laut katanya ya, jadi pengen nonton kalau sinematografinya bagus. eh tapi Avatar aja aku nontonnya ketiduran karena kelamaan durasi :))) semoga pas nonton ini ngga

    • kurang lebih begitu, mbak, walaupun gak sehalus avatar tapi vibe-nya dapet.

      untuk durasi sih cukup panjang: 143 menit, semoga ga ketiduran, mbak 😹

Tinggalkan Balasan ke presyl Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s