[Review] Preman Pensiun (2019)

f

Preman Pensiun (2019) – sumber: MNC Pictures

Serial Preman Pensiun di RCTI adalah salah satu dari sedikit sekali serial lokal yang saya tonton bahkan saya sukai. Ketika mendengar Preman Pensiun akan tayang di layar lebar, saya cukup penasaran akan seperti apa jadinya.

Film ini bercerita 3 tahun setelah cerita di season 3. Para preman sudah meninggalkan dunia pekerjaan “yang bagus tapi tidak baik”. Kang Mus (Epy Kusnandar) berjualan kecimpring. Eks anak buah yang lain pun tersebar, mulai jadi atlet tinju, satpam, tukang jaket, dll. Premis cerita utama di film ini adalah Gobang (M. Jamasari), eks preman cabang terminal Cicaheum kembali ke Bandung guna menuntut balas atas pengeroyokan adik iparnya. Ia kemudian mengajak reuni para mantan koleganya dulu di Bandung.

Bagi penonton sejak season 1 di tahun 2015 silam, film ini sukses mengobati rasa kangen. Tidak ada cacat berarti atas tokoh yang ditampilkan, walaupun tidak semua tokoh hadir.

Sinematografi

Ketika mulai, diawali dengan flashback ke era Kang Bahar (alm. Didi Petet). Di sini gambar sangat grain.ย Saya menduga ini akibat perkara teknis yakni format video dari sinetron yang tidak “mencukupi” untuk kebutuhan layar lebar.

Ciri khas yang sering hadir di serialnya juga tidak ketinggalan, yakni lompat-lompatan dialog. Istilahnya match cutting.ย Ini menambah unsur kekuatan film ini sebagaimana serialnya. Contohnya adalah ketika Kang Mus menelpon Ujang, tapi di tengah dialog, yang jawab malah Kang Pipit yang sedang di adegan yang lain.

Satu lagi yang menurut saya keren adalah teknik jukstaposisi. Apa itu jukstaposisi? Jukstaposisi adalah penyejajaran dua adegan yang beriringan tapi memiliki cerita yang kontras. Contohnya adalah ketika para preman sedang berkelahi di gang gelap, hujan, dan mencekam, dibarengi adegan Kang Mus dan istrinya, Ceu Esih (Vina Ferina), sedang malam mingguan di Braga dengan suasana romantis diiiringi tembang lawas. Agak sulit menjelaskannya memang tapi kalau Anda nonton pasti akan paham bagian ini.

Tokoh

Tokoh di Preman Pensiun sangat banyak. Bagi penggemarnya, mungkin akan mudah mengingat tapi bagi penonton baru sepertinya akan kesulitan. Selain itu, mengeksplorasi banyak tokoh dalam satu film akan menghabiskan banyak durasi. Ini tentu berbeda dengan serial yang masih bisa mengakomodir sidestory setiap tokoh. Menurut saya, di film ini cerita utama dan cerita sekunder cukup pas (walau bukan berarti mulus).

Yang agak kurang adalah tidak tampilnya subtitel ketika ada tokoh berbicara bahasa Sunda. Tidak banyak memang, hanya dua kali seingat saya. Kalau yang paham mah pasti ngakak. Tapi entahlah bagi yang tidak paham bahasa Sunda.

Epilog

Bagi Anda penggemar Preman Pensiun, film ini sangat asik ditonton. Bisa mengobati kerinduan akan serialnya yang tamat 3 tahun lalu. Emosinya masih sangat terasa dan kuat. Bagi yang tidak mengikuti serialnya, mungkin perlu kemampuan adaptasi yang lebih cepat. Selain itu, film yang berlatar di Bandung ini memang merakyat sekali. Adegan di Pasar Baru, Terminal Caheum, Cikapundung, dll sukses membuat saya ingin ke Bandung.

Iya, Bandung emang selalu dirindukan apalagi ada kamu. #eh

3 pemikiran pada “[Review] Preman Pensiun (2019)

  1. mantap.. pengen nonton belum kesampaian.. jaman serial dulu lumayan mengikuti dan memang paling suka di bagian dialog yang pindah pindah tokoh seakan nyambung.. tentu kelakuan kocak para pemerannya juga jadi daya tarik.. semoga bisa menyempatkan nonton deh.. ๐Ÿ˜

Tinggalkan Balasan ke nbsusanto Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s