Perjalanan

image

Saya pernah menulis ungkapan yang berbunyi: perjalanan membentuk cerita, tujuan sebatas menentukan ongkos.

Di tengah musim penghujan di bulan Februari ini, perjalanan apapun semakin “menyenangkan”. Jika bepergian dengan transportasi darat, kita menemukan banjir. Dengan transportasi air, kita akan menemukan ombak besar. Dengan transportasi udara, kita akan menemukan turbulensi yang tidak sebentar.

Setidaknya saya mengalami tiga hal tersebut dalam sepekan terakhir. Saya merasakan bagaimana minuman panas tidak disajikan akibat turbulensi berkepanjangan. Saya juga merasakan bagaimana kapal kayu ditampar ombak besar hingga air masuk ke dek kapal. Tak lupa, saya juga merasakan cipratan air dari mobil yang melaju kencang di lajur sebelah.

Semua berkesan. Semua punya cerita. Saya memang senang mencari cerita perjalanan semacam itu. Rasanya ingin tidak lekas sampai di tujuan. Berlama-lama menikmati perjalanan sambil menyesap hikmah yang ditemukan pancaindera di sepanjang perjalanan.

Namun, cerita di atas didapat dari perjalanan secara fisik. Berpindah dari titik A ke titik B. Bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Padahal ada jenis perjalanan lainnya–yang lebih besar: perjalanan hidup.

Perjalanan semacam itu umumnya bermula dari pilihan: mau perjalanan seperti apa?

Setiap pilihan memiliki konsekuensi. Berbahagialah mereka yang siap menerima konsekuensi pilihan dari perjalanan.

Setidaknya itu lebih mulia ketimbang diam dalam gelap tanpa bergerak atau melakukan sesuatu.
**

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s