Berjalan Menanjak

image

Saya kembali datang ke Bandung dan lagi-lagi saya melakukan “ritual” yang sama jika saya ke kota ini—seperti diceritakan sebelumnya di sini–yakni: berjalan kaki menyusuri suatu jalan.

Rute yang saya tempuh adalah Jalan Setiabudhi, tepatnya dari Amaris menuju Gegerkalong, samping kampus UPI.

Biasanya ada alasan utama kenapa saya berjalan kaki seperti itu. Pertama, motif biologis yakni mencari makan malam. Kedua, motif filosofis. Motif kedua ini maksudnya menelusuri jalan sambil mencari tahu perilaku orang di sekitarnya, misal mamang ojek yang hujan-hujanan, pedagang yang mendorong gerobaknya, mamang parkir yang sigap mengatur keluar-masuk kendaraan, dll.

Jalan kaki etape Setiabudhi malam itu sarat motif filosofis. Saya menemukan banyak hal. Terutama ketika arah datang. Jalan ke arah UPI itu menanjak pelan tapi pasti. Dalam keadaan berjalan kaki, rasanya lebih capek. Ada nanjak-nanjaknya gitu. Saya berjalan di trotoar sisi kanan jalan. Gelap. Sesekali nampak terang dari lampu kendaraan yang memantul di aspal yang masih basah. Oh ya, Bandung dalam situasi yang syahdu malam itu: gerimis dan macet.

Saya berjalan sambil mendengarkan musik melalui earphone. Sesekali musik terinterupsi karena ada pesan Whatsapp masuk. Pertama kurang lebih bernada “woy, gue nitip kue keju Banung!!1!1!”. Saya minta alamatnya dan ternyata berakhir dengan balasan saya yang berbunyi: “itu jauh dari sini.”

Iya, peta itu menunjukan suatu tempat di Cibeunying. Iya, Setiabudhi ke Cibeunying itu lumayan jauh.

Saya melanjutkan perjalanan yang makin nanjak. Di depan nampak halaman depan kampus UPI, saya teringat kamu alumni kampus ini yang menjadi dosen-dosen hebat di kampus saya di Ciputat. Oh, ini toh penampakan UPI di malam hari: gelap dan horor.

Lalu saya berbelok ke Gegerkalong. Tempat ini direkomendasikan seorang alumni kampus UPI juga. Ia tidak merekomendasikan suatu tempat jajanan atau apa tapi menyarankan masuk saja ke Gerlong (sebutan gaul Gegerkalong) karena banyak pilihan. Cari sendiri tapi saya udah menemukan, gimana dong? #eh

Iya, saya menemukan banyak sekali jajanan dan hiruk pikuk mahasiswa yang antre di berbagai tempat makan. Saya mampir makan bubur ketan setelah sebelumnya saya mengambil beberapa penampakan gambar kampus UPI untuk wajib lapor ke yang merekomendasikan saya mampir ke Gerlong. Barangkali gambarnya bisa bikin dia nostalgia. Ya, kan? Barangkali sekali lagi.

Dari sekian banyak jajanan di Gerlong, akhirnya pilihan saya berlabuh ke kamu warkop untuk makan bubur saja. Banyak pilihan sebenarnya tapi kamu bubur di warkop sudah cukup apalagi di warkop bisa curi dengar percakapan pengunjung lainnya. Biasanya ada saja inspirasi dari kegiatan semi-ilegal semacam itu.wkwk

Selesai, lantas saya terpikir dan bergumam dalam hati dan mengamini rekomendasi untuk Gerlong dan pilih sendiri: “benar juga, kalau merekomendasikan sesuatu, tunjukan saja jalannya, karena pasti akan banyak pilihan”. Kadang merekomendasikan suatu tujuan dan tempatnya tutup akan membuat kita kecewa.

Memang pada situasi apapun, memilih sesuatu harus yakin, saya beruntung bisa memilih warkop itu.

Apa yang membuat pilihan itu terasa menyenangkan walaupun jalan menanjak dan hujan? Jawabnya satu: Yakin.

Yakin??

Iya.

6 pemikiran pada “Berjalan Menanjak

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s