Patah-Tumbuh: Memulai

 

IMG_20190605_222104.jpg

Saya tidak persis ingat kapan saya memulai untuk merasa. Merasa dalam artian lebih dari sebatas kagum dari jauh kepada seseorang dan hanya bisa senyum-senyum simpul dari balik bayangan.

Tapi saya ingat kepada siapa, sebut saja: Romarizuluzulu. (Tentu bukan nama sebenarnya). Saya kagum padanya saat itu. Dari sekian banyak pengamatan dan interaksi dua arah, saya merasa harus mempertanggungjawabkan rasa kagum yang saya ciptakan.

Kemudian saya menghubungi kawan yang ada di lingkar pertemanan kami berdua. Saya mengkonfirmasi apa-apa saja informasi berharga yang saya dapatkan tentang Romarizuluzulu. Saya meminta sang kawan juga untuk menyampaikan “pertanggungjawaban rasa kagum yang saya ciptakan”.

Butuh waktu, tentu saja.

Setelahnya, sang kawan memberikan pesan dengan permintaan maaf dan alasan dari Romarizululu. Saya membacanya dengan saksama. Saya mafhum bahwa setiap aksi akan menimbulkan reaksi, itu kata hukum III Newton. Setiap pilihan yang kita laksanakan akan memiliki konsekuensi jawaban: ya atau tidak. Jawaban darinya adalah: tidak.

Tentu saja saya menerima (dan sudah sepatutnya menerima) konsekuensinya saat itu. Bukankah sikap ksatria dengan dagu tegak tetap harus dilaksanakan kapanpun?

Sesaat saya merasa patah, tidak lama saya sadar, yang patah tetap harus ditumbuhkan, satu hari nanti dengan jawaban terbaik-Nya.

===

Lagu Latar:

14 pemikiran pada “Patah-Tumbuh: Memulai

  1. Ping balik: Patah-Tumbuh: Menitipkan Rasa | ardiologi

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s