Bapak Perebus Ubi

Kecepatan berjalan kaki saya bisa dibilang cepat, setidaknya itu penilaian orang lain dan penilaian pribadi. Beberapa orang mengamini dan saya pun sepertinya membenarkan.

Betul saja, sore ini sepulang dari masjid, saya berjalan kaki ke kos. Jarak dekat membuat jalan kaki menjadi pilihan.

Sampai di suatu sudut jalan, saya hampir menyalip seorang bapak. Ia membawa gerobak. Ia mempersilakan saya menyalipnya melalui isyarat tangan sambil tersenyum.

Tiba-tiba saya mengerem langkah kaki, mencegat si bapak dan saya memilih untuk membeli apa yang ada di dalam gerobak tersebut.

Saya memesan dua ikat bajigur dan sebuah ubi rebus. Sambil menyiapkan bajigur, si bapak bertanya ringan tentang status kuliah atau kerja. Maklum di sekitar kos sini, mayoritas adalah mahasiswa. Saya jawab tentu dengan seramah mungkin.

Pesanan selesai. Saya membayar belanjaan tersebut, sampai pada ujung transaksi, si bapak sejurus menambahkan sepotong ubi lagi.

“ditambihan hiji deui, jang” ucapnya ramah sambil tersenyum.

Ungkapan Bahasa Sunda di atas artinya “ditambahkan satu lagi, nak”.

Hatur nuhun, pak.

Saya lanjut berjalan kaki dengan kecepatan yang sama untuk kembali ke kos.

Sambil menunggu bajigur agak dingin, saya menulis pos ini dengan penuh rasa syukur tak terkira.

Atau mungkin lebih tepatnya rasa haru.

**

2 pemikiran pada “Bapak Perebus Ubi

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s