Dikenal

640px-gado_gado_ulek

Beberapa hari lalu, saya mampir ke sebuah tempat makan yang bernuansa sambal. Misi saat itu adalah makan malam. Tempat tersebut memang cukup sering saya datangi dalam kurun waktu setahun terakhir. Akan tetapi, kunjungan malam kemarin terjeda cukup lama karena memang saya sempat bertugas di luar kota selama hampir 2 pekan marathon.

Penjualnya sudah hafal dan memang menu andalan saya itu-itu juga. Setelah memilih menu, sang penjual bertanya, “Kemana aja, mas? Baru kelihatan?”

“Oh, iya, mbak, baru sempet mampir nih”

Singkat cerita, prosesi makan malam berlangsung sebagaimana mestinya.

Skip ke kesempatan makan malam lainnya. Memang dasarnya manusia yang selera makanannya sangat heterogen. Selain tempat makan di atas, ada lokasi makan lainnya yang juga sering saya kunjungi.

Tempat tersebut adalah sebuah warung pecel lele. Lagi-lagi, si penjual paham akan pesanan saya. Jadi dengan sedikit isyarat pun, si penjual akan paham dan bisa menyiapkan pesanan saya.

Jika dibawa mundur ke bertahun-tahun lampau, saya juga ingat bahwa ada pedagang bakso dekat rumah yang hafal pesanan saya: bakso dengan bihun tanpa seledri. Sekalipun saya titip beli ke saudara atau keponakan, si penjual bakso tadi akan paham bahwa pesanan saya memang demikian adanya.

Dari sudut pandang penjual makanan saja, saya bisa dikenal. Dari bukan penjual. Saya membayangkan bagaimana sudut pandang orang lain tentang saya. Apakah saya sedemikian dikenal? Jika iya, berkesan baik atau buruk kah?

Bagaimana menurutmu?

Berikan Komentar...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s